Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab, Pejuang Tauhid yang memurnikan Islam


Belakangan ini nama Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab ramai diperbincangkan, terutama menyangkut gerakan “wahabi” atau “salafi wahabi” yang dituduh menjadi sumber gerakan radikalisme dan dinisbatkan kepada namanya. Bahkan, baru-baru ini diluncurkan sebuah buku tendensius berjudul “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” yang diterbitkan oleh LkiS, Yogyakarta. Lalu, siapakah sebenarnya Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab? Berikut biografi singkat beliau yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab dilahirkan di Nejed, tahun 1703 Masehi. Syekh Abdul Wahab tergolong Banu Siman, dari Tamim. Pendidikannya dimulai di Madinah yakni berguru pada ustadz Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad Hayat al-Sind. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pendiri kelompok Wahabi yang mazhab fikihnya dijadikan mazhab resmi kerajaan Saudi Arabia, hingga saat ini.

Sebenarnya, beliau bersama pengikutnya lebih senang menamakan kelompoknya dengan al-Muwahhidun (pendukung tauhid). Namun orang-orang Eropa dan lawan-lawan politiknya menisbatkan nama ‘Wahabi’ untuk menjuluki beliau dan gerakan yang dipimpinnya.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dikenal di dunia Islam berkat perjuangannya memurnikan ajaran Islam melalui pemurnian tauhid. Masalah tauhid, yang merupakan pondasi agama Islam mendapat perhatian yang begitu besar oleh Syekh Muhammad Abdul Wahhab. Perjuangan tauhid beliau terkristalisasi dalam ungkapan la ilaha illa Allah. Menurut beliau, aqidah atau tauhid umat telah dicemari oleh berbagai hal seperti takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC) yang bisa menjatuhkan pelakunya kepada syirik. Aktivitas-aktivitas seperti mengunjungi para wali, mempersembahkan hadiah dan meyakini bahwa mereka mampu mendatangkan keuntungan atau kesusahan, mengunjungi kuburan mereka, mengusap-usap kuburan tersebut dan memohon keberkahan kepada kuburan tersebut. Seakan-akan Allah SWT sama dengan penguasa dunia yang dapat didekati melalui para tokoh mereka, dan orang-orang dekat-Nya. Bahkan manusia telah melakukan syirik apabila mereka percaya bahwa pohon kurma, pepohonan yang lain, sandal atau juru kunci makam dapat diambil berkahnya, dengan tujuan agar mereka dapat memperoleh keuntungan.

Pencemaran terhadap ajaran Islam yang murni bermula di masa pemerintahan Islam Abbasiah di Baghdad. Kemajuan ilmu pengetahuan di zaman ini telah menyeret kaum muslimin untuk ikut pula memasyarakatkan ajaran filsafat yunani dan romawi. Selain itu, pengaruh mistik platonik dari budaya Rusia ikut menimbulkan pengaruh negatif pada ajaran Islam. Puncaknya adalah berbagai macam kebatilan dan takhyul yang dipraktekkan kaum Hindu mulai diikuti orang-orang Islam. Wilayah Arab, sebagai tempat kelahiran Islam pun tidak luput dari pengaruh buruk tersebut. Orang-orang Arab terpecah belah karena perselisihan dan persaingan di antara suku, mengalami kemunduran di berbagai aspek kehidupan. Di saat seperti inilah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab muncul untuk kemudian membersihkan anasir-anasir asing yang menyusup ke dalam kemurnian Islam.

Di masa pendidikannya, kedua orang guru Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, yakni Syekh Sulaiman Al-Kurdi dan Syekh Muhammat Hayat al-Sind telah melihat tanda-tanda kecerdasan Syekh Abdul Wahhab. Mereka menemukan tanda-tanda kemampuan ijtihad pada diri Syeh Abdul Wahhab. Tak lama kemudian, Syekh Abdul Wahhab melakukan perjalanan untuk beberapa tahun ; empat tahun di Basrah, lima tahun di Baghdad, setahun di Kurdistan, dua tahun di Hamdan, dan empat tahun di Ishafan, tempat ia mempelajari filsafat, tasawuf, dan ishrakiya. Sekembalinya ke daerah asalnya, ia menghabiskan waktu setahun untuk merenung, dan baru setelah itu ia mengajukan pokok-pokok pikirannya seperti termaktub dalam kitab al-Tauhid kepada masyarakat.

Pada awalnya, idenya tidak begitu mendapat tanggapan bahkan banyak mendapatkan tantangan, kebanyakan dari saudaranya sendiri, termasuk kakaknya Sulaiman dan sepupunya Abdullah bin Husain. Pemikirannya malah mendapatkan sambutan di luar daerah kelahirannya, yaitu di Dariya. Akhirnya beliau bersama keluarganya meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke Dariya. Kepala suku Dariya pada saat itu, Muhammad bin Saud malah menerima pemikiran-pemikiran beliau dan melakukan propaganda untuknya.

Selanjutnya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkerjasama secara sistematis dan saling menguntungkan dengan keluarga Saud untuk menegakkan Islam. Dalam waktu setahun sesampainya di Dariya, Syekh Abdul Wahhab memperoleh pengikut hampir seluruh penduduk di kota. Di kota tersebut pula, beliau membangun masjid sederhana dengan lantai batu kerikil tanpa alas.

Sudah diketahui umum, masjid-masjid yang terpengaruh mazhab atau pemikiran Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab atau sering disebut dengan istilah “wahabi” dibangun secara sangat sederhana tanpa hiasan apapun. Mereka juga menghancurkan batu-batu nisan dan kuburan, bahkan juga di Jannatul Baqi, untuk menjaga jangan sampai menjadi benda pujaan orang-orang sesat atau orang-orang Islam yang bebal.

Selanjutnya, pengikut Syekh Abdul Wahhab makin lama makin bertambah. Sementara itu, keluarga Saud yang hampir seluruh kehidupanya terlibat dalam peperangan dengan kepala-kepala suku lainnya selama 28 tahun, secara perlahan namun pasti memasuki masa kejayaannya. Di tahun 1765 Ibnu Saud meninggal dunia dan digantikan oleh Abdul Aziz yang tetap mempertahankan Syekh Abdul Wahhab sebagai pembimbing spiritualnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, gerakan kaum Muwahhidun (Wahabi) ini segera menyebar ke dunia Islam lainnya dan mendapatkan banyak pengikut. Keluarga Ibnu Saud, sebagai pendukung dan unsur utama garakan ini segera menaklukkan hampir seluruh semenanjung Arab, termasuk kota-kota suci Mekkah dan Madinah. Gerakan Wahabi ini akhirnya menjadi mazhab fikih resmi keluarga Saudi yang berkuasa, dan juga dianut oleh para murid Syekh Muhammad Abduh di Mesir. Syekh Muhammad Abdul Wahhab pun akhirnya dikenal sebagai seorang pemikir dan pembaru di dunia Islam. Gerakannya telah menggetarkan dan bergema di seluruh dunia, dan merupakan sarana yang sangat besar dalam mempersatukan dunia Arab yang penuh persaingan ke bawah kekuasaan keluarga Saudi.

Inti ajaran Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab didasarkan atas ajaran-ajaran Syekhul Islam, Ibnu Taimiyah dan mazhab Hambali. Prinsip-prinsip dasar ajaran tersebut adalah : (1) Ketuhanan Yang Esa dan mutlak (karena itu penganutnya menyebut dirinya dengan nama al-Muwahhidun). (2) Kembali pada ajaran Islam yang sejati, seperti termaktub dalam Al-Qur`an dan Hadits. (3) Tidak dapat dipisahkan kepercayaan dari tindakan, seperti sholat dan beramal. (4) Percaya bahwa Al-Qur`an itu bukan ciptaan manusia. (5) Kepercayaan yang nyata terhadap Al-Qur`an dan Hadits. (6) Percaya akan takdir. (7) Mengutuk segenap pandangan dan tindakan yang tidak benar (8) Mendirikan Negara Islam berdasarkan hukum Islam secara sempurna.

Salah satu fatwa Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab – yang juga kadang dijuluki sebagai Syekhul Islam – adalah tentang penguasa yang berhukum dengan selain syariat Islam. Beliau memaknai toghut sebagai :

“Segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, diikuti dan ditaati dalam perkara‐perkara yang bukan ketaatan kepada Allah dan Rasul‐Nya , sedang ia ridha dengan peribadatan tersebut”.

Beliau menjelaskan : “Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima, yaitu :

Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah.
Penguasa dzalim yang merubah hukum‐hukum Allah.
Orang‐orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.
Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.
Sesuatu selain Allah yang diibadahi dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.
Tujuan utama ajaran Syekh Abdul Wahhab adalah memurnikan tauhid umat yang sudah tercemar. Untuk itu, beliau sangat serius dalam memberantas bid’ah, khurafat dan takhyul (TBC) yang berkembang di tengah-tengah umat. Beliau menentang pemujaan terhadap orang-orang suci, mengunjungi tempat-tempat keramat untuk mencari berkah. Beliau menganggap bahwa segala objek pemujaan, kecuali terhadap Allah SWT, adalah palsu. Menurut beliau, mencari bantuan dari siapa saja, kecuali dari Allah SWT, ialah syirk.

Gerakan al-Muwahhidun atau yang kini sering disebut sebagai gerakan “wahabi” ini menjadi ancaman bagi kekuasaan Inggris di daerah perbatasan dan Punjab sampai 1871. Ketika itu pemerintah Inggris bersekongkol untuk mengeluarkan ‘fatwa’ guna memfitnah kaum Wahhabi sebagai orang-orang kafir. Hingga kini, ternyata fitnah dan tuduhan kepada dakwah beliau terus berlangsung, yakni dianggap sebagai pemicu radikalisme. Padahal, beliau adalah seorang muwahhid, pembaru Islam yang memurnikan aqidah umat dari bahay syirik.

Syekh Muhammad Abdul Wahhab, pemikir dan pembaru, pejuang tauhid yang memurnikan ajaran Islam ini wafat di tahun 1787 Masehi dan dimakamkan di Dariya. Sepeninggal beliau, ajarannya diteruskan oleh murid-muridnya, dan misi pemurnian ajaran Islam terus bergema hingga saat ini. Semoga Allah SWT., menerima seluruh amal sholeh beliau.

Wallahu’alam bis showab!

(Arrahmah.com)

Iklan
By Tyang Ndusun

8 comments on “Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab, Pejuang Tauhid yang memurnikan Islam

  1. pemurnian kok menganggap yang tidak sepaham dianggap kafir,yak opo kuwi….cari guru seng temenan wae kono

  2. Firman Allah SWT :
    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya (ulama) dan rahib-rahib mereka
    sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan)
    Al-Masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa,
    tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.
    Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
    (QS. At-Taubah: 31)

    Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini (QS. At-Taubah: 31)
    dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan
    ‘Adiy ibnu Hatim (seorang shahabat yang asalnya Nashrani, sebelum masuk Islam),
    ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi,
    maka ‘Adiy mengatakan:
    “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat (sembahyang) atau
    sujud (menyembah,pen) kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”,

    Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani (saat itu) adalah
    kenapa Allah memvonis “kami telah mempertuhankan mereka (rahib/pendeta)”,
    atau apa(pun) bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah kami lakukan sehingga
    kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah beribadah
    atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka?

    Maka Rasul SAW bersabda :
    “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib telah) menghalalkan apa yang Allah
    haramkan, lalu kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan
    apa yang Allah halalkan, lalu kalian (juga) ikut mengharamkannya?”

    Lalu ‘Adiy ibn Hatim menjawab: “Ya”,

    Rasul berkata lagi:
    “Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada
    mereka (alim ulama dan para rahib).”
    (HR Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dengan sanad Hasan)

    Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah
    (dalam Kitab Tauhid) juga menulis sebuah bab :
    “BARANGSIAPA YANG MENTAATI ULAMA DAN PEMIMPIN
    DALAM MENGHARAMKAN APA YANG DIHALALKAN ALLAH DAN
    MENGHALALKAN APA YANG DIHARAMKAN ALLAH;
    MAKA DIA TELAH MENJADIKAN MEREKA SEBAGAI TUHAN TANDINGAN.”

    Syaikh Muhammad Amin bin Muhammad Mukhtar Asy Syinqiti rahimahullah berkata:
    “Sesungguhnya setiap orang yang mengikuti hukum, aturan, UU,
    yang menyelisihi apa yang Allah syariatkan lewat lisan
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia musyrik terhadap Allah,
    kafir, lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai Rabb.”
    (Kitab Al Hakimiyyah : 56)

    Syaikh Muhammad Amin bin Muhammad Mukhtar Al-Syinqithi RA. juga berkata :
    “Berbuat syirik kepada Allah dalam masalah hukum dan
    berbuat syirik dalam masalah beribadah itu maknanya sama,
    sama sekali tak ada perbedaan antara keduanya.
    Orang yang mengikuti hukum (hukum buatan manusia/hukum positif, pent)
    selain hukum Allah dan undang-undang (positif buatan manusia, pent)
    selain undang-undang Allah adalah seperti halnya orang yang menyembah berhala
    dan sujud kepada berhala, antara keduanya sama sekali tidak ada perbedaan
    dari satu sisi sekalipun. Keduanya satu (sama saja) dan
    keduanya musyrik kepada Allah.”
    (Kitab Adhwa’ul Bayan, 7/162)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ra. juga berkata :
    “Islam mencakup sikap menyerahkan diri kepada Allah semata.
    Maka barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan juga kepada selain-Nya maka
    ia telah musyrik. Dan barang siapa tidak menyerahkan dirinya kepada Allah
    berarti telah menyombongkan dirinya (menolak) untuk beribadah kepada Allah.
    Orang yang musyrik dan orang menyombongkan dirinya dari beribadah kepada Allah
    adalah orang yang kafir. Adapun sikap menyerahkan diri kepada Allah semata
    mencakup sikap beribadah kepada Allah semata dan mentaati Allah semata.”
    (Kitab Majmu’ Fatawa, 3/91)

    Sesuai dengan Firman Allah SWT :
    “…dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.
    Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
    maka mereka itu adalah orang-orang yang KAFIR. ”
    (QS Al-Maa’idah : 44)

    dan Firman Allah SWT :
    “Apakah hukum Jahiliyah (buatan manusia) yang mereka kehendaki, dan
    (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
    orang-orang yang yakin (beriman, pen) ? ”
    (QS Al-Maa’idah : 50)

    dan Firman Allah SWT :
    “…Ingatlah, menciptakan dan memerintah (membuat hukum) hanyalah hak Allah.
    Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
    (QS Al-A’raaf : 54)

    dan Firman Allah SWT :
    “Sesungguhnya hak menetapkan hukum itu hanya milik Allah.
    Dia memerintahkan kalian untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya saja.
    Itulah dien yang lurus.”
    (QS Yusuf : 40)

  3. Firman Allah SWT :
    Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
    menjadikan kamu (Muhammad sebagai) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
    kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan
    yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
    [QS Annisa : 65]

    Menafsirkan QS Annisa ayat 65, Imam Ibnu Katsir berkata,
    “Allah Ta’ala bersumpah dengan Dzat-Nya Yang Maha Mulia dan Maha Suci bahwasanya
    seseorang tidak beriman sampai ia menjadikan Rasul sebagai hakim dalam seluruh urusan.
    Apa yang diputuskan Rasul itulah yang haq yang wajib dikuti secara lahir dan batin.”
    (Tafsir Ibnu Katsir, 3/211)

    Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata,
    “Adapun ridha dengan nabi-Nya sebagai Rasul mencakup sikap tunduk sepenuhnya
    kepada Nabi Muhammad SAW dan menyerahkan diri secara mutlak kepada
    Rasululllah sallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga ia tidak menerima petunjuk
    kecuali yang bersumber ajaran Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam,
    tidak berhukum (meminta putusan perkara) kecuali kepada
    Beliau sallallahu ‘alaihi wasallam, tidak menjadikan selain beliau sebagai
    hakim (pemberi keputusan atas segala persoalan), tidak ridha dengan hukum
    selain hukum beliau,..”
    (Kitab Madariju As-Salikin, 2/172-173)

    Sebagaimana dikatakan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahab:
    “Makna syahadat ‘Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan (rasul) Allah SWT
    adalah mentaati perintah beliau SAW, membenarkan berita wahyu yang beliau sampaikan,
    menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali
    dengan cara yang beliau syariatkan.”
    (Kitab Majmu’atu Muallafat al-syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, 1/190 dan
    lihat pula Taisiru Al-Aziz Al-Hamid Syarh Kitab At-Tauhid, hal. 554-555)

    Oleh karena ini pula, syaikh Muhammad bin Ibrahim menegaskan bahwa
    memberlakukan syariat Allah SWT sebagai satu-satunya undang-undang adalah
    makna dari syahadat ‘aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.
    Beliau berkata:
    “Menjadikan Rasul sebagai satu-satunya hakim (pemutus perkara) tanpa selain Beliau
    adalah ‘saudara kandung’ dari beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya
    dengan sesuatu apapun. Karena kandungan dua kalimat syahadat adalah hendaklah Allah
    semata yang diibadahi tanpa sekutu dan hendaklah Rasulullah semata yang diikuti
    dan hukum beliau saja yang dibelakukan. Tidaklah pedang-pedang jihad dihunus
    kecuali karena hal ini dan untuk menegakkan hal ini, baik dengan melaksanakan
    perintah beliau SAW, meninggalkan larangan Beliau SAW, maupun menjadikan beliau
    sebagai hakim (pemberi keputusan) saat terjadi perselisihan.”
    (Risalah Tahkimul Qawanin, dalam kompilasi Fatawa syaikh Muhammad bin Ibrahim, 12/251)

    Syaikh Sulaiman bin Sahman An-Najdy dalam risalahnya
    berjudul Kalimat fi bayan ath-thoghut wa wujub ijtinabih :
    “Ini menjelaskan bahwa orang yang menganggap beriman kepada Allah dan rosul-Nya,
    sementara ia berhukum kepada selain syari’at Islam,
    maka ia pendusta lagi munafiq, sesat dari Jalan yang Lurus.
    Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
    “Sungguh demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga menjadikanmu sebagaim hakim (pemutus)
    di antara perselisihan mereka lalu mereka tidak mendapati dalam diri mereka
    keberatan atas apa yang engkau putuskan dan berserah diri total menerima putusan itu)”
    [QS Annisa : 65]”

    Syaikh Sulaiman bin Sahman An-Najdy rahimahullah dalam risalahnya
    pada kitab tersebut juga berkata :
    ”Maqam Kedua :
    jika engkau mengetahui bahwa tahakum kepada thoghut adalah kekafiran,
    maka sungguh Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa kekafiran lebih besar
    daripada pembunuhan.
    Ia berfirman (Dan fitnah lebih besar daripada pembunuhan) [Al-Baqarah : 217]
    dan Ia berfirman (Dan fitnah itu lebih keras daripada pembunuhan) [Al-Baqarah : 191]
    dan fitnah disini adalah kekafiran.
    Jika saja penduduk desa dan kota saling membunuh hingga mereka semua binasa,
    maka itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thoghut yang memutuskan hukum
    yang menyelisihi Syari’at Islam yang Allah utus rosul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam
    dengan membawa syari’at itu.”

    Lalu berkata :
    “Maqam Ketiga :
    jika tahakum ini adalah kekafiran. Dan perselisihan karena perkara dunia,
    maka bagaimana boleh kalian kufur karena hal tersebut?
    Karena tidak beriman seseorang hingga Allah dan rosul-Nya lebih ia cintai
    dari selain keduanya dan hingga rosul lebih ia cintai daripada anaknya,
    ayahnya dan seluruh manusia. Jika seluruh perkara duniamu lenyap,
    maka hal itu tidak membolehkanmu berhukum kepada thoghut.
    Wallahu a’lam semoga Allah mencurahkan shalawat kepada Muhammad dan
    keluarganya serta mencurahkan salam yang banyak”

    Syaikh Abdurrahman bin Hasan At-Tamimi rahimahullah dalam kitabnya Fathul Majid Syarah Kitabit Tauhid dalam menjelaskan bab ayat ini, beliau berkata :
    “Siapa yang menyelisihi apa yang Allah perintahkan rasul-Nya untuk itu
    (berhukum dengan apa yang Allah turunkan) dengan memutuskan di antara manusia
    dengan selain apa yang Allah turunkan atau meminta hal itu karena mengikuti keinginannya,
    maka sungguh ikatan Islam dan iman telah lepas dari lehernya meskipun dia menganggap
    dirinya beriman. Karena sesungghnya Allah mengingkari orang yang menginginkan hal tersebut
    dan mendustakan klaim mereka bahwa mereka beriman dalam firmannya (mereka menganggap)
    menafikan iman mereka, karena kata (yaz’umun) itu dikatakan secara umum kepada
    siapa yang mengklaim sesuatu yang ia dusta karena menyelisihi konsekuensinya dan
    melakukan perbuatan yang menafikan klaim itu.
    İni dibuktikan dengan firman-Nya (Dan sungguh mereka diperintahkan untuk kufur kepadanya)
    karena kufur kepada thoghut merupakan rukun tauhid sebagaimana dalam ayat Al-Baqarah (ayat 256).
    Jika rukun itu tidak direalisasikan, maka dia bukan muwahhid”.

    Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata :
    “Dan janganlah engkau merasa berat untuk menyelisihi manusia dan
    menggabungkan diri pada golongan Allah dan RasulNya, meskipun engkau sendirian,
    karena sesungguhnya Allah bersamamu dengan pengawasan, pemeliharaan dan penjagaannya untukmu.
    Dan hanyalah Allah itu menguji keyakinan dan kesabaranmu.
    Dan penolong terbesar bagimu untuk itu (setelah pertolongan Allah) adalah
    melepaskan diri dari sifat tamak (rakus dunia) dan ketakutan.
    Maka kapan saja engkau bisa lepas dari keduanya, akan ringan bagimu untuk menggabungkan diri
    kepada golongan Allah dan Rasul- Nya, dan engkau senantiasa berada pada
    sisi yang disitulah Allah dan Rasul-Nya.”
    (Kitab Al fawa’id ” 1/hal.116)

  4. QS Al-Maa’idah ayat 44 :
    “…dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.
    Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
    maka mereka itu adalah orang-orang yang KAFIR. ”

    As-Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah RA, berkata :
    “Sumber kesesatan makhluk Allah dari semua kelompok adalah
    mencari-cari sebab Allah melakukan perbuatan-Nya (termasuk perintah & larangan-Nya).”
    [Kitab Qasidah Ta’iyyah fil Qadar no:6, hal: 116]

    QS Al-A’raaf ayat 54 :
    “…Ingatlah, menciptakan dan memerintah (membuat hukum) hanyalah hak Allah.
    Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”

    QS Yusuf ayat 40 :
    “Sesungguhnya hak menetapkan hukum itu hanya milik Allah.
    Dia memerintahkan kalian untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya saja.
    Itulah dien yang lurus.”

    QS Ali Imran ayat 31-32 :
    Katakanlah (Muhammad) : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
    aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
    Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
    Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling,
    maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang KAFIR.”

    QS Al-Maa’idah ayat 49 :
    “Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang
    diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
    Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
    memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.”

    QS Al-Maa’idah ayat 50 :
    “Apakah hukum Jahiliyah (buatan manusia) yang mereka kehendaki, dan
    (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
    orang-orang yang yakin (beriman) ? ”

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menafsirkan ayat ini
    (QS Al-Maa’idah ayat 49-50) :
    “ Allah Ta’ala mengingkari orang yang berpaling dari hukum Allah
    -hukum yang telah muhkam (kokoh), meliputi seluruh kebaikan dan mencegah setiap
    keburukan-kemudian orang tersebut justru berpaling kepada yang lain, berupa
    pandangan-pandangan, hawa nafsu dan berbagai peristilahan yang dibuat oleh manusia
    tanpa bersandar kepada syariat Allah, sebagaimana masyarakat jahiliyah berhukum
    kepada kesesatan dan kebodohan, hukum yang mereka buat berdasarkan pandangan dan
    hawa nafsu mereka.
    Sama halnya seperti Bangsa Tartar yang berhukum dengan kebijakan-kebijakan
    kerajaan yang diambil dari keputusan raja mereka, Jengis khan,
    raja yang telah menyusun al Yasaq untuk mereka, yaitu kitab kumpulan hukum yang diramu
    dari berbagai syariat yang berbeda, termasuk dari Yahudi, Nasrani dan Islam.
    Di dalamnya juga terdapat banyak hukum yang semata-mata dia ambil dari
    pandangan dan hawa nafsunya. Kitab itu kemudian berubah menjadi syariat (undang-undang)
    yang diikuti oleh anak keturunannya, yang mereka dahulukan
    ketimbang hukum yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah rosulullah.
    Siapa melakukan hal tersebut maka dia telah kafir.
    Ia wajib diperangi sampai mau kembali merujuk kepada hukum Allah dan RasulNya,
    sampai dia tidak berhukum kecuali dengannya (Kitab dan Sunnah) baik sedikit maupun
    banyak.”

    Rasulullah SAW bersabda :
    Setiap syarat (hukum, red) yang tidak ada di Kitabullah
    (menyalahi/mengingkari syariah, red) adalah batil meski (ada) 100 syarat.
    (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban)

    QS Al-Mumtahanah ayat 10 :
    Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu.
    Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    QS Al-An ‘Aam ayat 57 :
    “…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.
    Dia menerangkan yang sebenarnya dan
    Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”

  5. Syaikh Marwan Hadi rahimahullah juga telah mendefinisikan
    Ulama itu dalam sebuah syair terkenalnya :

    “Siapakah Ulama Itu?”

    “Akhi… Ya akhi… Siapakah Ulama itu?
    Apakah ia seorang yang selalu tidur di malam hari?
    Apakah ia seorang yang jauh dari petunjuk?
    Sehingga terlihat mendekat kepada THOGHUT..

    Apakah ia seorang yang sopan kepada musuh…?
    Tapi justru memerangi orang orang bertaqwa?

    Apakah ia yang mengumpulkan potongan roti.
    Di depan pintu-pintu istana THAWAGHIT..?
    Yang selalu bermakar untuk membasmi para Da’i?

    Maka jangan sekali kali engkau sholat di belakangnya!
    Yang bersembunyi di balik baju taqwa.
    Padahal sejatinya anjing THOGHUT yang angkuh?

    Apakah ia seorang yang membai’at orang orang dholim.
    Dan tertawa bersama orang hina lagi terlaknat..?
    Yang berfatwa demi mengaburkan kekafiran.
    Dan memcampur adukkan yang haq dan kedholiman.
    Yang menyesatkan manusia, yang meruntuhkan din.
    Yang memenuhi perut dan temboloknya dengan lemak.

    Yang ikut MEMBUAT HUKUM di PARLEMEN.
    Dengan saling mencurangi dan syirik modern.
    Yang mengumpulkan manusia, yang menghimpun jin.
    Demi memperoleh “kursi palsu” lagi hina.
    (ikut Pemilu & Demokrasi, pen)

    Yang tertawa girang dan hina.
    Demi mengumpulkan uang dan kerendahan.
    Yang melahap piring dengan rakus.
    Padahal anak anak saudara kita kelaparan.
    Yang tertawa gila terbahak bahak.

    Padahal saudara-saudara kita tersiksa di sel-sel penjara?
    Maka sial dan celakalah bagi setiap penghianat.
    Yang menjual surga dengan barang murahan.”

  6. IMAM ASY SYAFI’I RA:
    “Siapa yang berijtihad dan MENETAPKAN HUKUM di luar hukum dan aturan Islam,
    dia bukan seorang Mujtahid (manusia bertauhid/alim ulama yang telah mengamalkan
    ilmunya berdasarkan AL-Quran & As-Sunnah) dan bukan seorang Muslim,
    baik sesuai Islam ataupun menyelisihi ajaran Islam.
    Dia adalah orang yang tidak berakal, DIA MENJADI KAFIR
    karena menyelisihi hukum dan ketentuan Islam.”
    [Kitab Kalimah Al Haqin, hal.96]

    Begini Firman Allah SWT untuk orang-orang Kafir/Murtad :
    (QS An Nuur ayat 39) :
    “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana
    di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,
    tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.
    Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan
    kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah
    sangat cepat perhitungan-Nya.”

    Rasulullah SAW bersabda :
    Setiap syarat (hukum, red) yang tidak ada di Kitabullah
    (menyalahi/mengingkari syariah, red) adalah batil meski (ada) 100 syarat.
    (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban)

    (QS Al Maidah ayat 54) :
    “Hai orang-orang yang beriman,
    barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
    maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
    Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya,
    yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin,
    yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
    yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada
    celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
    diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,
    dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

    (QS Al Baqarah ayat 217) :
    “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya,
    lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang
    sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan
    mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

    Syaikh Abdulloh bin Abdirrohman bin Abdil Aziz Abi Buthin berkata :
    “Seluruh ulama’ dalam kitab-kitab Fiqh berkata,
    “siapa yang murtad dari Islam, dibunuh setelah dimintai bertaubat.
    Mereka dihukumi murtad sebelum dimintai taubat.
    Karena istitabah (permintaan untuk taubat) adalah setelah menghukumi murtad.”
    [Kitab Ad-Duror 10/402]

    Imam Syafi’i -rahimahullaah- juga berkata:
    “Para ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa
    barangsiapa yang jelas sunah Rasulullah SAW baginya;
    maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut dikarenakan
    mengikuti perkataan seseorang.”
    [Lihat I’laamul Muwaqqi’iin (2/282), karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata ::
    “Barangsiapa meninggalkan hukum yang baku yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah
    (Rasulullah SAW), dan dia malah mengacu hukum kepada yang lainnya berupa ajaran-ajaran
    (Allah) yang sudah dinasakh, maka dia kafir. Maka bagaimana gerangan dengan
    orang yang merujuk hukum kepada ALYASA *) dan dia mengedepankannya terhadap hukum (Allah)
    itu, maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin (kesepakatan ulama).”
    (Kitab Al Bidayah Wan Nihayah juz 13 hal 119)

    Beliau juga berkata:
    “Barang siapa yang berhukum kepada kitab yang telah di nasakh (dihapus)
    semisal injil maka dia telah kafir. Maka bagaimana lagi bagi
    orang-orang yang berhukum dengan Yasiq?”.

    *) ALYASA itu adalah Yasiq, yaitu kitab undang-undang hukum yang (saat itu) dibuat oleh
    Jengis Khan, yang dia rangkum (campur aduk) dari sebagian dari Islam, sebagian dari
    Nashrani, sebagian dari Yahudi, sebagian dari ahli bid’ah/pemikiran manusia,
    dan sebagian dari buah pikirannya.
    Untuk mengambil simpati umat Islam, mahkamah saat itu di bagi dua,
    satu mahkamah yasiq dan satu mahkamah Islam.

    Sehingga Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata:
    “Siapa yang mendatangi mahkamah Islam maka dia muslim dan
    siapa yang mendatangi mahkamah yasiq maka dia kafir”.
    Beliau juga berkata:
    “Seorang Ulama yang meninggalkan apa yang ia pelajari dari
    alqur’an dan sunnah lalu mengikuti pemerintah yang tidak memerintah
    sesuai dengan ajaran Allah dan RasulNya adalah murtad dan kafir
    yang pantas dihukum di dunia dan di akhirat.
    (Majmu Ibnu Taimiyah 35/373)

    “Dan orang dikala melegalkan yang haram yang di-ijmakan atau
    mengharamkan yang halal yang diijma’kan atau mengganti ajaran
    yang sudah di-ijma’kan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan fuqaha”.
    (Ibnu Taimiyah RA dalam Majmu Al Fatawa: 13/267 )

    SYAIKH MUHAMMAD AL AMIN ASY SYANQITHIY RAHIMAHULLAH berkata :
    “Allah Azza wa Jalla bersumpah dengan-Nya bahwa orang yang mengikuti
    syaitan dalam penghalalan bangkai (dan semisalnya) itu adalah musyrik
    dan syirik (macam) ini adalah mengeluarkan dari millah berdasarkan
    ijma’ kaum muslimin.”
    (Adlwaul Bayan 3/325).

    Syaikhul Islam IBNU TAIMIYAH RA:
    “Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak meyakini wajibnya berhukum
    terhadap apa yang Allah dan RasulNya turunkan, DIA ADALAH KAFIR.
    Barangsiapa yang MENERAPKAN HUKUM BUATAN dan tidak mengikuti apa yang Allah turunkan,
    DIA ADALAH KAFIR, tidak ada satu umat pun melainkan diperintah
    untuk berhukum dengan hukum yang benar.”
    [Majmu’ Fatawa jilid.3]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata :
    “Thaghut adalah wazan fa’alut dari thughyan,
    sedangkan thugyan itu adalah melampaui batas, yaitu kedzaliman dan aniaya.
    Maka yang diibadati selain Allah bila dia itu tidak membenci peribadatan tersebut
    adalah THOGHUT, oleh sebab itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam
    menamakan patung-patung sebagai thaghut di dalam hadits shahih tatkala beliau berkata:
    “Dan orang yang menyembah para thaghut dia mengikuti para thaghut itu.”
    Dan yang ditaati dalam maksiat kepada Allah, juga yang ditaati dalam mengikuti
    kesesatan dan dalam selain dienul haq, baik dia itu diterima beritanya
    yang menyelisihi kitabullah atau ditaati perintahnya yang menyelisihi perintah Allah
    maka ia itu adalah THOGHUT, oleh sebab itu orang yang dirujuk hukum yang memutuskan
    dengan selain kitabullah adalah dinamakan THOGHUT…”
    (Majmu’ Al Fatawa: 28/200, lihat kitab Ath Thaghut milik Abu Bashir halaman 66).

    Rasulullah SAW bersabda :
    “Bila pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum dengan hukum Allah
    (maka) kecuali Allah Ta`ala akan menanamkan permusuhan diantara mereka
    satu sama lain.”
    [HR Ibnu Majah : (4019), Al Hakim : (4/540), Al Baihaqiy,
    Abu Nu`aim dalam Al Hulyah : (8/333), dan selain mereka,
    lihat Al Silsilah As Shohihah : (106)]

    Imam Muslim menambahkan : “Sampai sampai sebahagian mereka menghancurkan
    sebahagian yang lainnya, menawan (dianggap sebagai musuh) sebahagian
    atas sebahagian lainnya.
    [HR Muslim : (2889)]

    IMAM HANAFI RA:
    “Jika seorang penguasa meyakini bahwa hukum yang Allah turunkan
    tidak wajib diamalkan atau boleh memilah-milih hukum Allah
    yang sesuai dengan seleranya meskipun masih meyakini tentang wajibnya,
    dia telah berbuat KUFUR AKBAR (menjadi kafir).”
    [Syarah Al Aqidah AthThahawiyah, 2/446]

    IMAM MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB RA:
    “Thaghut beraneka ragam bentuknya, induknya ada 5 macam, yaitu:
    1. Syaithan yang menyeru untuk beribadah kepada selain Allah.
    2. Penguasa zhalim yang merubah hukum Allah.
    3. Orang yang berhukum kepada selain hukum Allah.
    4. Orang yang mempelajari ilmu ghaib.
    5. Orang yang disembah selain Allah dan ridha terhadap persembahan yang
    diperuntukkan baginya.”
    [Majmu’ At Tauhid hal.14-15]

    Imam Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab RA berkata
    dalam kitab Taisir Al Aziz Al Hamid yang dinukil oleh Syaikh Ali Al Khudlair, berkata :
    “Sekedar pengucapan kalimat syahadat tanpa mengetahui maknanya dan
    tanpa mengamalkan konsekwensinya berupa komitmen dengan tauhid,
    meninggalkan syirik akbar dan ingkar kepada thaghut,
    maka sesungguhnya (pengucapan syahadat) itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma
    (kesepakatan ulama).”

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah RA berkata:
    “Dan kapan saja seorang alim meninggalkan apa yang dia ketahui
    dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya
    lalu mengikuti hukum penguasa (hukum pemerintah THOGHUT) yang bertentangan
    dengan hukum Alloh dan Rasul-Nya, maka ia telah murtad dan kafir
    serta pantas baginya mendapatkan siksa di dunia dan di akhirat.”
    (Majmu’ Fatawa, 35/373).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah RA juga berkata :
    “Dan barangsiapa berbuat di muka bumi tanpa berlandaskan kepada kitab Allah dan sunnah
    rasul-Nya maka berarti ia telah bekerja untuk berbuat kerusakan di muka bumi.”
    (Majmu’ Fatawa, 28/470)

    Ibnu Taimiyyah RA rahimahullah juga berkata :
    “Karena sesungguhnya syirik, berbicara atas nama Allah tanpa dasar ilmu,
    perbuatan-perbuatan keji baik yang nampak darinya maupun yang tersembunyi,
    dan kezaliman itu, di dalamnya tidak ada maslahat sama sekali.”
    (Majmu Al Fatawa : 14/476).

  7. Tentang memilih Pemimpin/Teman (Auliyaa) non-Muslim :

    QS Al-Maa’idah ayat 51 :
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
    menjadi pemimpin-pemimpin (bagimu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.
    Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi auliya’ (wali/pemimpin),
    maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka.

    Imam Ath Thabari ketika menafsirkan ayat ini berkata,
    “Siapa menjadikan mereka sebagai (wali) pemimpin dan sekutu dan
    membantu mereka dalam melawan kaum muslimin, maka ia adalah
    orang yang seagama dan se-millah (segolongan) dengan mereka.
    Karena tak ada seorangpun yang menjadikan orang lain sebagai
    pemimpinnya kecuali ia ridho dengan diri orang itu, agamanya, dan kondisinya.
    Bila ia telah ridho dengan diri dan agama walinya itu, berarti ia telah memusuhi
    dan membenci lawannya, sehingga hukumnya (kedudukan dia) adalah
    (seperti) hukum pemimpinnya (walinya) yaitu KAFIR.”
    (Tafsir Ath Thabari 6/160)

    QS Ali Imran ayat 28 :
    Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin)
    dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,
    niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat)
    memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.
    Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.
    Dan hanya kepada Allah kembali (dirimu).

    QS Ali Imran ayat 118-120 :
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi
    teman kepercayaanmu orang-orang yang (berada) di luar kalanganmu
    (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.
    Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka,
    dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.
    Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.
    Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu,
    dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya…
    Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati,
    tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.

    Al-Qodhi ‘Iyadh RA berkata:
    “Para ulama sepakat (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang kafir”
    (Syarh Shahih Muslim, 6/315 oleh An Nawawi).

    Ibnu Mundzir RA berkata:
    “Seluruh ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa orang kafir tidak boleh menjadi
    pemimpin apapun keadaannya”
    (Ahkamu Ahli Dzimmah, 2/787 oleh Ibnul Qoyyim).

    Ibnu Hazm RA berkata:
    “Para ulama sepakat (ijma’) bahwa kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada
    wanita, kafir, dan anak kecil”.
    (Marotibul Ijma‘ hlm. 208).

    QS An Nisa’ ayat 138-139 :
    Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,
    yaitu
    mereka yang mengambil orang-orang kafir sebagai auliya’ (wali/pemimpin)
    dengan meninggalkan orang-orang mu`min. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi
    orang kafir? Maka sesungguhnya semua kemuliaan milik Allah.

    QS An-Nisa ayat 150-151 :
    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
    dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
    dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan
    Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain dari Al-Quran & As-Sunnah)”,
    serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara
    yang demikian (antara iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.
    Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.”

    Rasululloh SAW bersabda:
    “Barangsiapa membantu dalam rangka membunuh seorang mukmin dengan
    separuh kalimat saja, ia akan menghadap Alloh, tertulis di antara
    kedua matanya: “ORANG YANG BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH”
    (HR Ibnu Majah)

    Al ‘Allamah Abu Ath Thoyyib Shidiq bin Hasan Al Bukhari rahimahullah
    dalam kitabnya Al ‘Ibrah (hal. 245), ia berkata :
    “Siapa saja yang memuji orang Nashrani, menyatakan mereka adalah orang yang adil,
    orang Nashrani itu mencintai keadilan, pujian seperti ini pun banyak disuarakan
    di majelis, maka yang memuji termasuk orang fasik dan pelaku dosa besar.
    Sedangkan sikapnya untuk pemimpin atau raja muslim jadi dihinakan.
    Adapun orang kafir diagung-agungkan dan tidak pernah disebut zalim.
    Orang yang melakukan seperti itu wajib bertaubat dan menyesal atas sikapnya.
    Sedangkan kalau yang dipuji adalah dari sisi akidah kafir yang mereka anut,
    maka memuji mereka termasuk kekafiran.”

    As-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrak hafizhohullah berkata :
    “Siapa yang meyakini bahwa agama Yahudi dan Nashrani itu benar,
    maka ia kafir walaupun ia menjalani berbagai syariat Islam.
    Realitanya ia telah mendustakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Contohnya saja yang memuji non muslim dari sisi akhlak, kagum pada tingkah laku
    serta mengagungkan mereka, demikian itu haram.
    Seperti itu bertentangan dengan hukum Allah pada mereka.”

    Syaikhul Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab juga berkata :
    “Namun, perhatikanlah arsyadakallah perkataan beliau (Imam Ibnu Qayyim) :
    “Tidak ada yang selamat dari syirik akbar ini kecuali orang yang memusuhi
    karena Allah (kpd) orang-orang musyrik” sampai akhir perkataan beliau.
    Maka akan jelas bagi anda bahwa Islam tidak akan lurus (benar) kecuali
    dengan memusuhi para pelaku kesyirikan. Jika ia tidak memusuhi mereka,
    maka ia termasuk kelompok mereka sekalipun ia tidak melakukannya
    (kesyirikan tersebut).”

    Syaikh Abdurahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab juga berkata :
    “Para ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, aimmah
    dan seluruh ahlu sunah telah berijma’ bahwasanya seseorang tidak menjadi
    seorang muslim, kecuali dengan membebaskan diri dari syirik akbar,
    berlepas diri dari syirik akbar dan orang yang melakukannya, membenci
    dan memusuhi mereka sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan, dan
    mengikhlaskan seluruh amalan untuk Allah Ta’ala.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s