Dilema “Yasinan”


Kata yasinan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat dinegri ini,baik yg tinggal di kota apalagi bagi umat islam yg tinggal di desa,yasinan sendiri berasal dari nama surat di dalam Al qur’an yaitu surat ke 36 yaitu surat yasin,biasanya mereka yang melakukan yasinan adalah orang islam yang memegang prinsip tradisi atau sering di sebut islam tradisional,dalam kebiasaan orang jawa biasanya yasinan ini sering dilakukan ketika terjadi kematian ,kelahiran anak,.sunatan,pernikahan,syukuran dll,bahkan di akhir akhir ini malam peringatan HUT RI pun mereka membacakan surat yasin ,tak jarang untuk mempertahankan budaya yasinan ini mereka membentuk kelompok pengajian YASINAN,yang biasanya mereka mengumpulkan anggotanya setiap malam jum’at untuk membaca surat yasin.

BOLEHKAH KITA MEMBACA SURAT YASIN?

Al qur’an tidak akan lengkap jika didalamnya tidak ada surat Yasin maka apabila kita membaca dan mengkhotamkan Al qur’an, secara otomatis kita akan membaca surat  yasin tsb,bila ini yang terjadi maka hal ini tidak masalah. Karena tidak mungkin seseorang  mengkhotamkan Al Qur’an tanpa membaca Surat Yasin

Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita “mengkultuskan” surat yasin atau mengkhususkan membacanya pada waktu2 tertentu misalnya 7 hr ,40 hr,100 hr,1000 hr dari kematian seseorang atau mungkin membacanya di waktu kelahiran anak,sunatan atau ketika malam jum’at maka ini jelas tidak pernah di contohkan oleh Rosulloh dan para sahabatnya.Dan Perbuatan semacam ini bisa di kategorikan sebagai bid’ah (sesuatu ibadah yang di ada-adakan )

YASINAN BID’AH HASANAH?

Kebanyakan para pelaku dan pecinta yasinan menggunakan alasan bahwa itu pernah dilakukan oleh para wali (wali songo) ketika awwal masuknya islam di Indonesia.,baiklah kami jawab:

Pertama: Alasan yang dipakai oleh mereka dlm hal ini tidak tepat atau kurang akurat karena tidak ada data autentik yang menyebutkan bahwa para wali (wali songo) melakukan hal tersebut.

Kedua:  Seandainya para wali benar-benar melakukan hal tersebut bisa jadi disebabkan karena keterbatasan ilmu tentang islam pada saat itu,hal ini disebabkan karena  sulitnya akses untuk mengkaji ‘ulumudin.Diatas itu semua tidak ada kewajiban bagi kita untuk mencontoh  para wali karena mereka bukan manusia yg ma’sum (terhindar dari dosa),sebagai manusia mereka para wali bisa saja melakukan kesalahan dan kekeliruan, cukuplah Rosullulloh sebagai uswah khasanah kita (contoh tauladan kita)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”[QS. Al-Ahzaab: 21]

Sebagian dari pelaku yasinan juga beranggapan bahwa yasinan di kategorikan sebagai Bid’ah Hasanah dengan mengeluarkan argument tentang kisah Umar bin Khathab.

Bahwasanya Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu mengatakan: نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ (sebaik-baik bid’ah adalah ini) ketika beliau mengumpulkan manusia untuk mengerjakan sholat tarawih yg saat itu berkelompok2 yg setiap kelompok mmpunyai imam sendiri-sendiri.

Bid’ah yang dimaksud oleh umar di sini adalah bid’ah dlm arti bahasa yaitu sesuatu yg baru bukan bid’ah dlm artian syari’i karna sholat tarowih pernah dilaksanakan oleh Rosulullah secara berjamaah bersama para shahabat sebagaimana yg diriwayatkan oleh Ummul Mu’min Aisyah beliau berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi n), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau  bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:“Bid’ah itu ada dua macam:

Pertama: adakalanya bid’ah itu secara syar’i sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Kedua: adakalanya bid’ah itu secara lughoh, sebagaimana perkataan ‘Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu tentang pengumpulan mereka untuk melaksanakan sholat tarawih secara berjamaah dan dilakukan demikian seterusnya, yakni:

نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِSebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).” (HR. Bukhari) (Tafsir Ibnu Katsir: surah Al Baqarah: 117)

Maka jelas bahwa bid’ah yg dimaksudkan oleh Umar adalah bid’ah dalam artian lughoh atau bahasa bukan bid’ah dalam makna syar’i dan dengan demikian maka Tidak Ada Bid’ah Hasanah Dalam Islam yang ada adalah setiap bid’ah adalah dholalah (sesat) sebagai mana sabda Rosulullah:

وَشَرُّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Perkara yang paling buruk adalah ajaran-ajaran baru (dalam Agama) yang dibuat-buat, setiap ajaran baru yang dibuat-buat adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa`i dan Ibnu Majah).

Ibnu Umar berkata: كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَة.

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan sekalipun orang melihatnya sebagai suatu yang baik.”

PELAKU YASINAN  

Mayoritas umat islam yang melakukan budaya Yasinan adalah orang- orang yang kurang mengetahui ajaran islam, kebanyakan dari mereka hanya mengikuti ajaran nenek moyang mereka dalam melakukannya atau sebagian dari mereka hanya Taklid Buta terhadap ajaran dari guru/kyai mereka tanpa mau mengkajinya terlebih dahulu,mereka menganggap hal tersebut sebagai bagian dari ajaran islam,kondisi ini seperti yg dinyatakan Alloh dlm alqur’an:

Dan apabila dikatakan kepada mereka :ikutilah apa yang telah di turunkan oleh Alloh Taala. Mereka menjawab(Tidak) tetapi kami hanya mengikutiapa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”.(apakah mereka akan mengikuti),walaupun nenek moyang mereka tisak mengetahuisuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk (QS albaqoroh 170)  

Dan apabila di katakana kepada mereka “ikutilah apa yang di turunkan allah”Mereka menjawab: “(tidak),tapi kami hanya mengikutiapayang kami dapatibapak2 kami(nenek moyang kami) mengerjakannya”.Dan apakah mereka(akan mengikuti bapak bapak mereka)walaupun syaithaon itu menyeru mereka ke dalam api yang menyala nyala (Qs:lukman:21)

Maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk senantiasa berdakwah kepada  mereka dan mengajak mereka untuk meniggalkan Bid’ah dan kembali kepada Sunnah sesuai dengan apa yg di contohkan serta diperintahkan oleh Rosululloh agar amal ibadah kita tidak di tolak oleh Alloh,Sebagai mana sabda Rosululloh:

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا

لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

الْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

Sederhana di dalam Sunnah lebih baik dibandingkan bersungguh-sungguh di dalam bid’ah (riwayat al-hakim)

Wahai saudaraku…. ketahuilah bahwa Mengamalkan satu SUNNAH itu jauh lebih baik dari pada mengamalkan seribu BID’AH. Wallohu a’lam bishowab   (Oleh:Tyang Ndusun)    

Iklan
By Tyang Ndusun

One comment on “Dilema “Yasinan”

  1. Ass. Wr. Wb.
    Dengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
    Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
    Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut berperan, dan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
    Wass. Wr. Wb.
    hmjn wan@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s