Kisah TKW Cianjur di Gaza: 14 Tahun Tak Bisa Mudik


ISTIQOMAH NEWS: Alhamdulillah, abdi reseup pisan ketemu orang Indonesia,” ujar Ikah Subaikah (46) kepada relawan Daarul Qur’an Gaza, Abdillah Onim, yang menemuinya di Nusairot, Gaza Tengah, Sabtu 22 Maret 2014 waktu setempat.

Wanita bernama lengkap Ikah Subaikah binti Jamal Jayadi itu berasal dari Desa Cimuncang, Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat.

Ikah menuturkan, setelah suaminya wafat lima belas tahun silam, ia memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).

“Maklum, saya harus menghidupi empat anak, jadi biar jauh juga saya lakoni,” katanya.

Pada tahun 2000, Ikah diberangkatkan ke Gaza lewat Jordania, lalu menyambung ke Bandara Internasional Gaza di Rafah Selatan. Saat ini bandara tersebut sudah di tidak ada karena dihancurkan oleh bom Israel.

Ketika itu, Gaza belum diblokade Israel seperti sekarang. Sehingga, Ikah relatif gampang memasuki Palestina yang masih di bawah pimpinan Presiden Yasser Arafat (almarhum) alias Abu Ammar.

Dengan Bahasa Indonesia campur Bahasa Sunda yang masih medok, Ikah menuturkan saat ia baru tiba di Gaza, rakyat Palestina masih bersatu. Mereka bahu-membahu melawan pendudukan Israel melalui Intifadah.

Di Gaza, Ikah bekerja pada keluarga Hajjah Ummu Muhammad, perempuan Gaza yang ditemuinya saat transit di Jordania. Majikan Ikah sangat baik, sehingga TKW asal Indonesia ini betah bersamanya selama 14 tahun hingga kini.

“Semua anggota keluarga Ummu Muhammad sangat baik,” katanya.

Ummu Muhammad pun senang dengan Ikah. “Saat kami bertemu Ikah di Jordania, saya dan suami sepakat mengajak Ikah ke Gaza untuk bekerja di rumah kami sebagai pembantu rumah tangga. Alhamdulillah Ikah orangnya baik, jujur, dan menjaga amanah. Perhiasan, uang, dan harta kami tetap utuh walau kami letakkan begitu saja di rumah,” tutur Ummu Muhammad.

Ia menambahkan, Ikah juga agamanya bagus, selalu membaca Alquran, sholat 5 waktu tak pernah putus. “Bahkan saat ini Ikah sudah banyak menghafal ayat Alquran.”

Kini, Ikah sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Keluarga Ummu Muhammad. Ia misalnya, tidak lagi boleh membuang sampah ke luar rumah.

“Jika saya dan suami bepergian keluar negeri seperti ke Jordan dan Mesir, maka Ikah sendirian menjaga rumah. Pulangnya, kami selalu membawakan hadiah buat Ikah seperti kalung emas dan perhiasan lainnya,” ungkap Ummu Muhammad.

Abdillah Onim menemui Ikah berdasarkan informasi dari kawan-kawannya di Indonesia perihal adanya TKW di Gaza. Mengajak istrinya, Rajaa Al Hirthani, dan putri mereka Marwiyah Filind (2), Abdillah Onim akhirnya bertemu Ikah di rumah Ummu Muhammad.

Di akhir perbincangan, Ikah mengungkapkan kerinduannya pada keluarga dan kampung halaman yang sudah 14 tahun tak pernah ditemuinya.

“Selama 14 tahun saya hanya bisa mengirim kabar dan uang untuk keluarga di Cianjur. Saya kangen sekali, tapi tidak bisa pulang kampung karena paspor saya sudah habis masa berlakunya,” tutur Ikah sambil berurai airmata.

Ia berharap, KBRI di Mesir atau KBRI Jordan dapat membantunya memperpanjang paspor, sehingga bisa cuti pulang kampung menjenguk anak-anaknya. [muslim daily]


By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s