Mengenal Konsep Taqiyah ala LDII


ISTIQOMAH NEWS; Paradigma baru yang disosialisasikan pengurus LDII adalah bagian dari salah satu ajaran yang berkode 354, salah satunya ialah “bithonah” atau taqiyah. Yaitu sikap berpura-pura agar dapat mengelabui tokoh-tokoh ulama, pejabat dan umat Islam pada umumnya.

“Mereka membuat istilah agar pejabat dan ulama di luar kelompoknya harus tetap disegani. Padahal maksud kata disegani  mereka adalah terminologi bahasa jawa yang artinya disuapi nasi (disuap).”

“Dalam bahasa jawa ‘sega‘ dibaca ‘sego‘ atau nasi. Disegani maksudnya disuap agar nurut lunatterhadap LDII,” ujar Wilyudin Dhani, disela penyuluhan aliran sesat di Masjid Darussalam, Ciomas, Bogor, Ahad (23/3).

Menurut Pimpinan Majelis Abu Hanifah ini, bahkan dalam rangka sosialisasi itu mereka sampai berani memberikan hadiah-hadiah dari uang riba (bunga bank) dari kekayaan anggota jamaah LDII yang terhimpun di bank-bank. Disebut dengan istilah uang merah yang tidak mereka ambil.

“Uang merah itulah yang mereka gunakan untuk menyuap dengan mencari target sasaran pengurus-pengurus MUI, tokoh-tokoh pegawai Kemenag, tokoh-tokoh pemerintah atau tokoh-tokoh masyarakat, guna mengamalkan 3 prinsip utama dakwah mereka yaitu ‘Fathonah, Bithonah, dan Budi Luhur’ untuk mencari dukungan dan perlindungan,” ungkap Ustadz yang juga Ketua MUI Kota Bogor Bidang Penelitian dan Pengkajian Aliran Sesat ini.

Menanggapi desakan umat agar MUI Pusat keluarkan fatwa sesat LDII, Dhani setuju dengan hal tersebut. Karena paham paradigma baru yang mereka anut masih identik dan meneruskan akidah Islam Jamaah serta sebagai nama baru dari kelompok bentukan Nurhasan Ubaidah itu.

“Kenyataannya paradigma baru tersebut hanya taktik untuk mengelabui pengurus MUI pusat maupun MUI-MUI daerah. Tapi dalam praktek internalnya sama sekali tidak berubah yakni menjalankan akidah ‘Islam Jamaah’,” sambungnya.

Dia juga mendukung dakwah yang dilakukan Adam Amrullah. Sehingga mereka yang masih menjadi anggota jamaah LDII dapat sadar serta membuka pemahaman umat Islam agar tidak terjerumus ke dalam kelompok tersebut.

“Kepada kaum muslimin di seluruh Indonesia, baik sebagai pribadi, pejabat pemerintah, pengurus MUI atau tokoh-tokoh masyarakat, untuk tetap waspada dalam menjaga akidah umat di wilayahnya masing-masing,” himbaunya dengan tetap menjaga toleransi dan kerukunan. [MUSLIM DAILY]

Iklan
By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s