Heboh!! Istri Jalaluddin Rakhmat Sebut Jokowi Penganut Kelompok Sesat Syi’ah


Jalaluddin Rakhmat & Emilia RenitaISTIQOMAH NEWS: Pernyataan heboh kembali dilontarkan oleh Emilia Renita Az, istri Ketua Dewan Pembina Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat. Istri pentolan Syi’ah Indonesia itu menyampaikan statemen bombastis dengan mengklaim jika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi adalah penganut kelompok sesat Syi’ah.

Selain itu, wanita yang punya nama lengkap Emilia Renita Azzahro ini menyatakan jika Jokowi merupakan penganut kelompok sesat Syi’ah yang akan memuluskan langkah Jalal yang merupakan rekan satu partai Jokowi di PDIP untuk men-Syi’ahkan umat Islam Ahlu Sunnah atau Sunni di Indonesia. “Itu lho pak Jokowi, yang saya bilang orang Syi’ah yang akhlaknya baik banget difitnah macam-macam. Untung dia Syiah, jadi orang intoleransinya pada gonggong, Pak Jalal-nya jalan terus. Kalo baca fitnah-fitnahnya, lucu-lucu.. tenan, pak.. hehehee..,” tulis Emilia dalam akun Facebook-nya pada Ahad (16/3/2014), seperti diberitakan Seputar Dunia Islam.

Hingga berita ini dimuat, belum ada kepastian tentang pernyataan Emilia yang juga sering melontarkan cacian terhadap ‘Aisyah istri Rasulullah SAW tersebut, apakah fakta atau hanya sekedar upaya untuk menggertak umat Islam di Indonesia. Juga apakah benar akun Facebook tersebut merupakan miliknya atau bukan.

…Itu lho pak Jokowi, yang saya bilang orang Syi’ah yang akhlaknya baik banget difitnah macam-macam. Untung dia Syiah, jadi orang intoleransinya pada gonggong…

Sebelumnya, Emilia juga telah melakukan tindakan provokatif terhadap kaum Muslim di Indonesia dengan meluncurkan buku berjudul “Menanggapi Buku Panduan Majelis Ulama Indonesia – Apakah MUI Sesat Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat?”, yang menurut Emilia merupakan jawaban dari buku yang telah dikeluarkan Tim MUI Pusat yang berjudul “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”.

Sementara itu, menurut penelusuran AntiLiberalNews pada salah satu blog Syi’ah terdapat sebuah artikel yang berjudul “Jokowi Presiden, Syi’ah Untung Besar”, ditemukan adanya sebuah kalimat seperti berikut ini: ”Keberpihakkan PDIP pada minoritas sudah tidak diragukan lagi. Misalnya, jika kelompok Islam radikal  menghajar Syi’ah, eh… PDIP malah pasang tokoh Syi’ah terkemuka–Kang Jalal—sebagai Calegnya. Aksi bar bar primitif ala Sampang tidak mungkin terulang jika Jokowi jadi Presiden. Masa Sulit bagi Mazhab Syi’ah Indonesia Teratasi 9 April 2014. .. seperti angin… tak terlihat bukan berarti tak ada…. Kebangkitan Syi’ah di ambang pintu…”. [kompas islam)

Iklan
By Tyang Ndusun

2 comments on “Heboh!! Istri Jalaluddin Rakhmat Sebut Jokowi Penganut Kelompok Sesat Syi’ah

  1. Islam sunni itu aswaja yaiitu NU, dan NU tidak ada masalah dengan kemajemukan, toleran dalam bernegara, anda wahabi takfiri jangan main klaim sunni lah, wong yang sunni anda bidah2kan, anda ini apa to??Aswaja,Syiah dan aliran2 lain ngga ada masalah kok, yang bikin masalah meruncing kan wahabi garis keras takfiri

  2. Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah

    Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya
    menyampaikan keterangan dan menunjukkan
    bukti. Dan ternyata didapati, yang berpendapat
    bahwa Syi’ah itu kafir adalah para Imam-Imam
    Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad,
    Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini beberapa
    pendapat dan fatwa para ulama Islam mengenai
    golongan Syi’ah Rafidhah yang disebut dengan
    Itsna Asy’ariyah dan Ja’fariyah.

    Pertama: Imam Malik
    Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al
    Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu
    Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:
    ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ :
    ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak
    termasuk dalam golongan Islam.”
    (As Sunnah, milik al-Khalal: 2/557)
    Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman
    Allah Ta’ala:
    ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺷِﺪَّﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻫُﻢْ
    ﺭُﻛَّﻌًﺎ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐُﻮﻥَ ﻓَﻀْﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ
    ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭَﺍﺓِ ﻭَﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻧْﺠِﻴﻞِ ﻛَﺰَﺭْﻉٍ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺷَﻄْﺄَﻩُ
    ﻓَﺂَﺯَﺭَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﻪِ ﻳُﻌْﺠِﺐُ ﺍﻟﺰُّﺭَّﺍﻉَ ﻟِﻴَﻐِﻴﻆَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ
    ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
    ‏[ﺍﻟﻔﺘﺢ29/ ]
    “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-
    orang yang bersama dengan Dia adalah keras
    terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
    sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka
    ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
    keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak
    pada muka mereka dari bekas sujud.
    Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
    sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti
    tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka
    tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
    menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas
    pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
    penanam-penanamnya karena Allah hendak
    menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
    kekuatan orang-orang mukmin). Allah
    menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
    dan mengerjakan amal yang saleh di antara
    mereka ampunan dan pahala yang besar.”
    Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat
    dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah
    kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan
    tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para
    shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata:
    “Karena mereka ini membenci para shahabat,
    dan barangsiapa membenci para shahabat, maka
    ia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini
    disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu
    ‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)[i]
    Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:
    ﻟﻘﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﻟﺘﻪ ﻭﺃﺻﺎﺏ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﻧﻘﺺ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ
    ﺃﻭ ﻃﻌﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻓﻘﺪ ﺭﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺃﺑﻄﻞ ﺷﺮﺍﺋﻊ
    ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ
    “Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu
    dan benar penafsirannya. Siapa pun yang
    menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi)
    atau mencela periwayatannya, maka ia telah
    menentang Allah, Tuhan alam semesta dan
    membatalkan syari’at kaum Muslimin.” (Tafsir
    al-Qurthubi: 16/297)

    Kedua: Imam Ahmad
    Banyak riwayat telah datang darinya dalam
    mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di
    antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu
    Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya
    kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela
    Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau
    menjawab,
    ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Aku tidak melihatnya di atas Islam.”
    Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul
    Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku
    mendengar Abu Abdillah berkata:
    ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ
    “Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu
    ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi
    kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.”
    Kemudian beliau berkata:
    ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻧﺄﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺮﻕ
    ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ
    “Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu
    ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah
    keluar dari Islam (tanpa disadari).” (Al-Sunnah,
    Al-Khalal: 2/557-558)
    Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin
    Hambal menyampaikan kepadaku, katanya:
    “Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang
    yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka beliau
    menjawab:
    ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Aku tidak melihatnya di atas Islam”.” (Al-
    Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib al
    Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)
    Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam
    Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang
    golongan Rafidhah:
    ﻫﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺒﺮﺃﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺴﺒﻮﻧﻬﻢ
    ﻭﻳﻨﺘﻘﺼﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻜﻔﺮﻭﻥ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻋﻠﻲ ﻭﻋﻤﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺩ ﻭﺳﻠﻤﺎﻥ
    ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻣﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ
    “Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan
    diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
    Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta
    mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja
    yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar,
    Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini
    sama sekali bukan Islam.” (Al-Sunnah, milik
    Imam Ahmad: 82)
    Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam Ahmad
    mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka
    (yakni para sahabat) dan orang yang mencela
    ‘Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya
    dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan
    darinya, seraya beliau membaca:
    ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻌُﻮﺩُﻭﺍ ﻟِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
    “Allah menasehati kamu, agar kamu jangan
    mengulang hal seperti itu untuk selama-
    lamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS.
    Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba
    Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)

    Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)
    Beliau berkata:
    ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ
    ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ
    ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
    “Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di
    belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah)
    atau seorang Rafidzi (beraliran Syi’ah Rafidhah),
    atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau
    Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh
    memberi salam kepada mereka, mengunjungi
    mereka ketika sakit, kawin dengan mereka,
    menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan
    sembelihan mereka.” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

    Keempat: Abdurrahman bin Mahdi
    Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin
    Mahdi berkata: “Keduanya adalah agama
    tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah
    (Syi’ah).” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)
    Kelima: Al-Faryabi
    Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: “Telah
    menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al-
    Kirmani, ia berkata: “Musa bin Harun bin Zayyad
    menceritakan kepada kami, ia berkata: “Saya
    mendengar al-Faryabi dan seseorang yang
    bertanya kepadanya tentang orang yang mencela
    Abu Bakar. Jawabnya: “Dia Kafir.” Lalu ia
    berkata: “Apakah orang semacam itu boleh
    dishalatkan jenazahnya?” Jawabnya: “Tidak.”
    Dan aku bertanya pula kepadanya: “Apa yang
    dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga
    telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?”
    Jawabnya: “Jangan kamu sentuh (Jenazahnya)
    dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat
    dengan kayu sampai kamu menurunkan ke liang
    lahatnya.” (al-Sunnah, milik al-Khalal: 2/566)

    Keenam: Ahmad bin Yunus
    Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia dinisbatan
    kepada datuknya, yaitu salah seorang Imam
    (tokoh) As-Sunnah. Beliau termasuk penduduk
    Kufah, tempat tumbuhnya golongan Rafidhah.
    Beliau menceritakan perihal Rafidhah dengan
    berbagai macam alirannya. Ahmad bin Hambal
    telah berkata kepada seseorang: “Pergilah anda
    kepada Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang
    Syeikhul Islam.”
    Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan
    Hadits dari beliau. Abu Hatim berkata: “Beliau
    adalah orang kepercayaan lagi kuat hafalannya”.
    Al-Nasaai berkata: “Dia adalah orang
    kepercayaan.” Ibnu Sa’ad berkata: “Dia adalah
    seorang kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli
    Sunnah wal Jama’ah.” Ibnu Hajar menjelaskan,
    bahwa Ibnu Yunus telah berkata: “Saya pernah
    datang kepada Hammad bin Zaid, saya minta
    kepada beliau supaya mendiktekan kepadaku
    sesuatu hal tentang kelebihan Utsman.
    Jawabnya: “Anda ini siapa?” Saya jawab:
    “Seseorang dari negeri Kufah.” Lalu ia berkata:
    “Seorang Kufah menanyakan tentang kelebihan-
    kelebihan Utsman. Demi Allah, aku tidak akan
    menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda
    tidak mau duduk sedangkan aku tetap berdiri!”
    Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut Tahdzib,
    1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29).
    Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah berkata,
    ﻟﻮ ﺃﻥ ﻳﻬﻮﺩﻳﺎً ﺫﺑﺢ ﺷﺎﺓ ، ﻭﺫﺑﺢ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻷﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩﻱ ، ﻭﻟﻢ ﺁﻛﻞ
    ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ﻷﻧﻪ ﻣﺮﺗﺪ ﻋﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Seandainya saja seorang Yahudi menyembelih
    seekor kambing dan seorang Rafidhi (Syi’i) juga
    menyembelih seekor kambing, niscaya saya
    hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku
    tidak mau makan sembelihan si Rafidhi. Karena
    dia telah murtad dari Islam.” (Al-Sharim al-
    Maslul, Ibnu Taimiyah: 57)

    Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya’la
    Beliau berkata, “Adapun Rafidhah, maka hukum
    terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan
    para sahabat atau menganggapnya fasik, yang
    berarti mesti masuk neraka, maka orang
    semacam ini adalah kafir.” (Al Mu’tamad, hal.
    267)
    . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau
    menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk
    neraka, maka orang semacam ini adalah kafir. . .
    Sementara Rafidhah (Syi’ah) sebagaimana
    terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka
    adalah orang-orang yang mengkafirkan sebagian
    besar Shahabat Nabi. Silahkan baca kembali
    tulisan yang telah kami posthing:
    Kitab Syi’ah Melaknat dan Mengafirkan Abu
    Bakar, Umar dan ‘Aisyah

    Kedelapan: Ibnu Hazam al-Zahiri
    Beliau berkata: “Pendapat mereka (Yakni
    Nashrani) yang menuduh bahwa golongan
    Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka
    sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan
    termasuk bagian kaum muslimin. Karena
    golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua
    puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah
    adalah golongan yang mengikuti langkah-
    langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan
    kebohongan dan kekafiran.” (Al-fashl fi al-Milal
    wa al-Nihal: 2/213)[ii]
    Beliau berkata: “Salah satu pendapat golongan
    Syi’ah Imamiyah, baik yang dahulu maupun
    sekarang ialah Al-Qur’an itu sesungguhnya telah
    diubah.”
    Kemudian beliau berkata: “Orang yang
    berpendapat, bahwa Al Qur’an ini telah diubah
    adalah benar-benar kafir dan men-dustakan
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.(Al
    Fashl: 5/40)
    Beliau berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat
    di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus
    Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa
    adalah wajib berpegang kepada Al Qur’an yang
    biasa kita baca ini ” Dan hanya golongan Syi’ah
    ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan
    sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik,
    menurut pendapat semua penganut Islam. Dan
    pendapat kita sama sekali tidak sama dengan
    mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan
    dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al Ihkam
    Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)
    Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak
    pernah menyembunyikan satu kata pun atau
    satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak
    melihat adanya keistimewaan pada manusia
    tertentu, baik anak perempuannya atau
    keponakan laki-lakinya atau istrinya atau
    shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat
    yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa
    kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau
    penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun
    rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar
    apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah
    kepada umat manusia. Sekiranya Nabi
    menyembunyikan sesuatu yang harus
    disampaikan kepada manusia, berarti beliau
    tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa
    beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al
    Fashl, 2:274-275)
    Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan
    oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini
    dipegang oleh Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Pendapat
    ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada
    masanya dan para ulama sebelumnya.

    4 IMAM MADZHAB
    sikap Abu Hanifah terhadap sekte ini:
    ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﺪ ﺍﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
    ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻱ ﻓﻲ ﻋﻘﻴﺪﺗﻪ ﻛﻔﺮ ﺳﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻓﺘﺎﻭﻯ
    ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ 2/590 ‏) . ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺃﻥ ﺳﺐ ﺍﻟﺸﻴﺨﻴﻦ
    ﻛﻔﺮ ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺇﻣﺎﻣﺘﻬﻤﺎ .” ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﺻﺎﺣﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﻘﻮﻝ :
    ” ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻨﻤﻲ ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ . ﺍﻧﻈﺮ ﺷﺮﺡ ﺃﺻﻮﻝ
    ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺍﻟﻼﻟﻜﺎﺋﻲ 4 / 733
    Imam As-Subki menyebutkan bahwa madzhab
    Abu Hanifah dan salah satu pendapat syafi’I
    dan yang lahir dari Ath-Thahawi dalam
    akidahnya adalah kekufuran orang yang
    mencela Abu Bakar. (Fatawa As-Subki 2/590)
    Dan Imam As-Subki juga menyebutkan bahwa
    mencela asy-syaikhani (Abu Bakar dan
    Umar)adalah kekufuran, demikian pula jika
    mengingkari kepemimpinan mereka berdua. “
    Dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah berkata,
    “Aku tidak shalat di belakang penganut
    jahmiyyah dan tidak pula syiah rafidhah dan
    juga qadariyyah (pengingkar takdir). “ lihat
    Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah
    karya Imam Al-Lalika’i.

    Pernyataan Imam Abu Hanifah rahimahullah

    ﺃَﺻْﻞُ ﻋَﻘِﻴﺪَﺓِ ﺍﻟﺸِّﻴﻌَﺔِ : ﺗَﻀْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ، ﺭِﺿْﻮَﺍﻥُ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢِ
    Landasan akidah Syi’ah adalah menyesatkan para
    sahabat ridhwanullah ‘alaihim.
    Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari
    Abu Hanifah rahimahullah .

    Pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah

    Kemudian al-Imam Malik berkata: “Barang siapa
    yang ada pada hatinya kedengkian (benci
    ataupun marah-pen) terhadap para sahabat
    Muhammad ‘ alaihissalam maka ayat ini (surat al-
    fath ayat 29-pen) telah mengenainya.” (as-
    Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al-
    Maktabah asy-Syamilah)

    Pernyataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah

    ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﺃَﺣَﺪﺍً ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺑِﺎﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻀَﺔِ
    Aku belum pernah melihat suatu kaum yang
    paling berani bersaksi dengan kedustaan melebihi
    Rafidhah.
    Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul
    Auliya’.

    Pernyataan Imam Ahmad rahimahullah

    Siapakah Rafidhah itu?
    Al-Imam Ahmad menjawab:
    ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﺘُﻢُ ﻭَﻳَﺴُﺐُّ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺣِﻤَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠﻪ
    Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar
    rahimahumallah. (as-Sunnah karya al-khallal:
    787)
    ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺮَّﻭَﺍﻓِﺾِ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ
    ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟَﺎ ﻧَﺄْﻣَﻦُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻗَﺪْ ﻣَﺮَﻕَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ
    Barang siapa yang mencela (sahabat Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka aku aku
    mengkhawatirkan kekafiran padanya seperti
    kalangan Rafidhah. Kemudian berkata lagi:
    Barang siapa yang mencela sahabat Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita
    khawatirkan ia telah keluar dari agama. (as-
    Sunnah karya al-Khallal: 790)
    Pernah disampaikan kepada al-Imam Ahmad
    tentang orang yang mencela Utsman bin ‘Affan
    radhiyallahu ‘anhu , maka beliau menjawab:
    ﻫﺬﻩ ﺯَﻧْﺪَﻗَﺔ
    Ini adalah zindiq. (as-Sunnah karya al-Khallal:
    791)
    Kemudian al-Khallal mendengar langsung dari
    Abdullah bin Ahmad bin Hambal:
    “Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang
    mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau (al-Imam
    Ahmad) menjawab:
    ﻣَﺎ ﺃَﺭَﺍﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ
    Aku memandangnya tidak di atas Islam. (as-
    Sunnah karya al-Khallal: 792)
    Al-Imam Ahmad mengatakan:
    ﻣَﻦْ ﺗﻨﻘﺺ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨْﻄَﻮِﻱ
    ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻠِﻴَّﺔ ، ﻭَﻟَﻪُ ﺧَﺒِﻴﺌَﺔُ ﺳُﻮﺀٍ ، ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺼَﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ، ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ
    ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    Barang siapa yang merendahkan salah seorang
    sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    maka tidaklah ia akan terguling kecuali di atas
    musibah (kesulitan dan kesempitan). Dan ada
    padanya sesuatu keburukan yang tersembunyi,
    yaitu ketika yang ia tuju (dengan celaanya itu-
    pen) adalah orang-orang terbaik, yaitu mereka
    adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wa sallam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 763)

    PARA ULAMA’ AHLUSSUNNAH
    termasuk ke 4 imam mazhab Islam yang diakui ummat Islam
    di dunia .

    INILAH Sikap Ulama Islam terhadap Agama
    Syi’ah :

    1.) Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy
    rahimahulllâh (W. 62 H)
    Beliau berkata,
    ﻟﻘﺪ ﻏﻠﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻓﻲ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻛﻤﺎ ﻏﻠﺖ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻲ
    ﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ
    “Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem
    terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana
    kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin
    Maryam.”
    –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
    dalam As-Sunnah 2/548]

    2.) Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy
    rahimahulllâh (W. 105 H)
    Beliau bertutur,
    ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ
    “Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang
    lebih dungu daripada kaum Syi’ah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
    dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh
    7/1461]
    Beliau juga bertutur,
    ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﻗﻞ ﻋﻘﻮﻻً ﻣﻦ
    ﺍﻟﺨﺸﺒﻴﺔ
    “Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat
    ini, dan Saya telah berbicara dengan
    penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada
    suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada
    kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
    dalam As-Sunnah 2/548]

    3.) Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh
    (W. 112 H)
    Beliau berkata,
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻻ ﺗﻨﻜﺢ ﻧﺴﺎﺅﻫﻢ، ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺭﺩﺓ
    “(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi
    kaum perempuan mereka dan tidak boleh
    memakan daging-daging sembelihannya karena
    mereka adalah kaum murtad.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]

    4.) Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-
    Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)
    Beliau berucap,
    ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺗﻔﻀﻞ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻴﺎً ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻻ ﺗﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ
    ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    “Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau
    mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan
    Ustman, serta janganlah engkau mencela
    seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam.
    –. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-
    A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]

    5.) Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W.
    155 H)
    Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar
    bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum
    Rafidhah, kemudian orang tersebut
    membicarakan sesuatu dengannya, tetapi
    kemudian Mis’ar berkata,
    ﺗﻨﺢ ﻋﻨﻲ ﻓﺈﻧﻚ ﺷﻴﻄﺎﻥ
    “Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau
    adalah syaithan.”
    –. [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal
    Jamâ’ah 8/1457]

    6.) Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury
    rahimahulllâh (W. 161 H)
    Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut
    bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh
    seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan
    Umar, Sufyân pun menjawab,
    ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ
    “(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang
    Maha Agung.”
    Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami
    menshalatinya?”
    (Sufyân) menjawab,
    ﻻ، ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ
    “Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”
    Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh.
    Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya ?”
    Beliau menjawab,
    ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ
    “Janganlah kalian menyentuhnya dengan
    tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu)
    dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.”
    –. [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar
    A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

    7.) Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179
    H)
    Beliau bertutur,
    ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺳﻬﻢ،
    ﺃﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau
    bagian apapun dalam keislaman.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162
    dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]
    Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa
    Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah
    maka Imam Malik menjawab,
    ﻻ ﺗﻜﻠﻤﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺮﻭ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
    “Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari
    mereka. Sesungguhnya mereka itu sering
    berdusta.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
    As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

    8.) Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim
    rahimahulllâh (W.182 H)
    Beliau berkata,
    ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻤﻲ، ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ
    “Saya tidak mengerjakan shalat di belakang
    seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy
    (penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary
    (penganut paham Qadariyah).”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    4/733]

    9.) Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh
    (W. 198 H)
    Beliau berucap,
    ﻫﻤﺎ ﻣﻠﺘﺎﻥ : ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
    “Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.),
    yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq
    Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]

    10.) Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy
    rahimahulllâh (W. 204 H)
    Beliau berkata,
    ﻟﻢ ﺃﺭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ، ﺃﻛﺬﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ، ﻭﻻ ﺃﺷﻬﺪ ﺑﺎﻟﺰﻭﺭ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
    “Saya tidak pernah melihat seorang pun
    penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam
    pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu
    melebihi Kaum Rafidhah.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam
    Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    8/1457]

    11.) Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W.
    206 H)
    Beliau berkata,
    ﻳﻜﺘﺐ ﻋﻦ ﻛﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺑﺪﻋﺔ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺩﺍﻋﻴﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
    “Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut
    bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali
    (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering
    berdusta.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
    As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]

    12.) Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby
    rahimahulllâh (W. 212 H)
    Beliau berkata,
    ﻣﺎ ﺃﺭﻯ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ﺇﻻ ﺯﻧﺎﺩﻗﺔ
    “Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan
    kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang
    zindiq.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    8/1457]

    13.) Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair
    rahimahulllâh (W. 219 H)
    Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan
    rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,
    ﻓﻠﻢ ﻧﺆﻣﺮ ﺇﻻ ﺑﺎﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻬﻢ، ﻓﻤﻦ ﻳﺴﺒﻬﻢ، ﺃﻭ ﻳﻨﺘﻘﺼﻬﻢ ﺃﻭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ،
    ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺊ ﺣﻖ
    “Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan
    ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang
    mencerca mereka atau merendahkan mereka
    atau salah seorang di antara mereka, dia
    tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada
    hak apapun baginya dalam fâ`i.”
    –. [Ushûl As-Sunnah hal.43]

    14.) Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh
    (W. 224 H)
    Beliau berkata,
    ﻋﺎﺷﺮﺕ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻭﻛﺬﺍ، ﻓﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻭﺳﺦ ﻭﺳﺨﺎً، ﻭﻻ
    ﺃﻗﺬﺭ ﻗﺬﺭﺍً، ﻭﻻ ﺃﺿﻌﻒ ﺣﺠﺔ، ﻭﻻ ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ …
    “Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya
    telah berbicara dengan ahli kalam dan …
    demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih
    kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah,
    dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/499]

    15.) Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W.
    227 H)
    Beliau berkata,
    ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺭﺟﻞ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻓﺈﻧﻪ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﺮﺗﺪ
    “Sesungguhnya kami tidaklah memakan
    sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia,
    menurut Saya, adalah murtad.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
    8/459]

    16.) Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W.
    241 H)
    Banyak riwayat dari beliau tentang celaan
    terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah :
    Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang
    mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,
    ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Saya tidak memandang bahwa dia di atas
    (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl
    dalam As-Sunnah 1/493]
    Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr,
    Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya
    tidak memandang bahwa dia di atas (agama)
    Islam.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/493]
    Beliau ditanya pula tentang orang yang
    bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang
    memberi salam kepada orang itu. Beliau
    menjawab.
    ﻻ، ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ
    “Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi
    salam kepada (orang) itu, janganlah dia
    menjawab (salam) tersebut.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/494]

    17.) Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail
    rahimahulllâh (W. 256 H)
    Beliau berkata,
    ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ
    ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ، ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ، ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ،
    ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
    “Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan
    shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun
    Saya mengerjakan shalat di belakang orang-
    orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya
    sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk
    mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk
    mereka.”
    –. [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]

    18.) Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin
    Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)
    Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang
    lelaki yang merendahkan seorang shahabat
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
    ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu
    karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi
    wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah
    benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini
    dan hadits-hadits adalah para shahabat
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang
    Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin
    mempercacat saksi-saksi Kita untuk
    menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan
    terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas
    dan mereka adalah para zindiq.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalam Al-
    Kifâyah hal. 49]

    19.) Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin
    Idris rahimahulllâh (W. 277 H)
    Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu
    Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab
    dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan
    Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati
    oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara
    perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum
    Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah
    telah menolak keislaman.
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
    Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]

    20.) Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-
    Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)
    Beliau berkata,
    ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺩﻳﺔ، ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻴﻒ، ﻭﺃﺭﺩﺅﻫﺎ ﻭﺃﻛﻔﺮﻫﺎ
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ
    ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ
    “Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat
    adalah menghancurkan, mengajak kepada
    kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di
    antara mereka adalah kaum Rafidhah,
    Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka
    menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl
    dan kezindiqan.”
    –. [Syarh As-Sunnah hal. 54]

    21.) Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W.
    385 H)
    Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik
    manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa
    sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali
    ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh
    shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
    adalah orang-orang pilihan lagi baik.
    Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah
    dengan mencintai mereka semua, dan
    sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja
    yang mencela, melaknat, dan menyesatkan
    mereka, menganggap mereka berkhianat, serta
    mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya
    berlepas diri dari semua bid’ah berupa
    Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan
    Mu’tazilah.”
    –. [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah
    hal. 251-252]

    22.) Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387
    H)
    Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah,
    mereka adalah manusia yang paling banyak
    berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di
    antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk
    dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan
    orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari
    mereka menyatakan bahwa tidak (sah)
    melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua
    Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali
    dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak
    memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan
    barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya,
    tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena
    pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya
    telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah
    Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap
    percampuran najis-najis penganut kesesatan
    serta keburukan pendapat-pendapat dan
    madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding
    menyebutkannya, jiwa merintih
    mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal
    membersihkan ucapan dan pendengaran mereka
    dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah
    Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah)
    yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang
    yang ingin mengambil pelajaran.”
    –. [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

    23.) Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387
    H)
    Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam
    Nûniyah-nya,
    ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾَ ﺷﺮُّﻣﻦ ﻭﻃﻲﺀَ ﺍﻟﺤَﺼَﻰ … ﻣﻦ ﻛﻞِّ ﺇﻧﺲٍ ﻧﺎﻃﻖٍ ﺃﻭ ﺟﺎﻥِ
    ﻣﺪﺣﻮﺍ ﺍﻟﻨّﺒﻲَ ﻭﺧﻮﻧﻮﺍ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ … ﻭﺭﻣﻮُﻫﻢُ ﺑﺎﻟﻈﻠﻢِ ﻭﺍﻟﻌﺪﻭﺍﻥِ
    ﺣﺒّﻮﺍ ﻗﺮﺍﺑﺘﻪَ ﻭﺳﺒَّﻮﺍ ﺻﺤﺒﻪ … ﺟﺪﻻﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﺘﻘﻀﺎﻥِ
    Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah
    sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak
    bebatuan Dari seluruh manusia yang berbicara
    dan seluruh jin Mereka memuji Nabi, tetapi
    menganggap para shahabatnya berkhianat Dan
    mereka menuduh para shahabat dengan
    kezhaliman dan permusuhan Mereka (mengaku)
    mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para
    shahabat beliau Dua perdebatan yang
    bertentangan di sisi Allah
    –. [Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]

    24.) Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-
    Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)
    Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan
    Rafidhah, madzhabnya telah mencapai
    pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah
    yang mengafirkan kaum muslimin yang
    menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat
    bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang
    mereka, dan kami tidak berpendapat akan
    kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan
    mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara
    mereka yang membolehkan kudeta dan
    menghalalkan darah, tidak diterima persaksian
    dari mereka.”
    –. [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah 2/551]

    25.) Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh
    (W. 543 H)
    Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang
    Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan
    Isa sama seperti keridhaan orang-orang
    Rafidhah kepada para shahabat Muhammad
    shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum
    Rafidhah) menghukumi (para shahahabat
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa
    para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan
    kebatilan.”
    –. [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

    26.) Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    rahimahulllâh (W. 728 H)
    Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah
    sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam
    seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam,
    tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan
    yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah)
    tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih
    pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada
    kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada
    yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada
    (kaum Rafidhah) itu.”
    –. [Minhâj As-Sunnah 1/160]
    Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu
    orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan
    kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi
    shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau
    yang beriman sebagaimana mereka telah
    membantu kaum musyrikin dari kalangan At-
    Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di
    Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi
    shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar-
    Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang
    lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan
    perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya
    (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam
    takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih
    berbicara.”
    –. [Majmu’ Al-Fatâwâ 25/309]
    Sumber :
    Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash-
    Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh-
    Dhâl hal. 90-110

    Penyataan Ulama Kredibelitas Tentang
    Kesesatan Syiah :

    Sebagai bahan bandingan, apakah
    memang benar Syiah itu Islam ?. ada
    banyak pernyataan Imam imam besar
    Islam yang menyatakan Syiah itu sesat,
    bahkan kafir, dan juga pernyataan mereka
    menolak ucapan ulama ulama [kaliber
    Indonesia] yang disebutkan diatas :

    1. AL-IMAM ‘AMIR ASY-SYA’BI
    berkata, “Aku tidak pernah
    melihat kaum yang lebih dungu
    dari Syi’ah.” (as-Sunnah,
    2/549, karya Abdullah bin al-
    Imam Ahmad)

    2. AL-IMAM SUFYAN ATS-TSAURI
    ketika ditanya tentang
    seseorang yang mencela Abu
    Bakr dan ‘Umar c, beliau
    berkata, “Ia telah kafir kepada
    Allah l.” Kemudian ditanya,
    “Apakah kita menshalatinya
    (bila meninggal dunia)?” Beliau
    berkata, “Tidak, tiada
    kehormatan (baginya)….” (Siyar
    A’lamin Nubala, 7/253)

    3. AL-IMAM MALIK dan AL-IMAM
    ASY-SYAFI`I rahimahumallah,
    telah disebut di atas.

    4. AL-IMAM AHMAD BIN HANBAL
    berkata, “Aku tidak melihat dia
    (orang yang mencela Abu Bakr,
    ‘Umar, dan ‘Aisyah g) itu
    sebagai orang Islam.” (as-
    Sunnah, 1/493, karya al-Khallal)

    5. AL-IMAM AL-BUKHARI berkata,
    “Bagiku sama saja apakah aku
    shalat di belakang Jahmi
    (penganut Jahmiyah, red.) dan
    Rafidhi (penganut Syiah
    Rafidhah, red.), atau di
    belakang Yahudi dan Nashara
    (yakni sama-sama tidak boleh,
    red.). Mereka tidak boleh diberi
    salam, tidak dikunjungi ketika
    sakit, tidak dinikahkan, tidak
    dijadikan saksi, dan tidak
    dimakan sembelihan
    mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad,
    hlm. 125)

    6. AL-IMAM ABU ZUR’AH AR-RAZI
    berkata, “Jika engkau melihat
    orang yang mencela salah satu
    dari sahabat Rasulullah n,
    maka ketahuilah bahwa ia
    seorang zindiq. Yang demikian
    itu karena Rasul bagi kita
    adalah haq dan Al-Qur’an haq,
    dan sesungguhnya yang
    menyampaikan Al-Qur’an dan
    As-Sunnah adalah para sahabat
    Rasulullah n. Sungguh mereka
    mencela para saksi kita (para
    sahabat) dengan tujuan untuk
    meniadakan Al-Qur’an dan As-
    Sunnah. Mereka (Rafidhah)
    lebih pantas untuk dicela dan
    mereka adalah zanadiqah
    (orang-orang zindiq).” (al-
    Kifayah, hlm. 49, karya al-
    Khathib al-Baghdadi t)

    7. IMAM MALIK AL KHALAL
    meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, katanya : Saya
    mendengar Abu Abdulloh
    berkata, bahwa Imam Malik
    berkata : “Orang yang mencela
    sahabat-sahabat Nabi, maka ia
    tidak termasuk dalam golongan
    Islam” ( Al Khalal / As Sunnah,
    2-557 )

    8. IBNU KATSIR
    berkata, dalam
    kaitannya dengan firman Allah
    surat Al Fath ayat 29, yang
    artinya :
    “ Muhammad itu adalah Rasul
    (utusan Allah). Orang-orang
    yang bersama dengan dia
    (Mukminin) sangat keras
    terhadap orang-orang kafir,
    berkasih sayang sesama
    mereka, engkau lihat mereka itu
    rukuk, sujud serta
    mengharapkan kurnia daripada
    Allah dan keridhaanNya. Tanda
    mereka itu adalah di muka
    mereka, karena bekas sujud.
    Itulah contoh (sifat) mereka
    dalam Taurat. Dan contoh
    mereka dalam Injil, ialah seperti
    tanaman yang mengeluarkan
    anaknya (yang kecil lemah), lalu
    bertambah kuat dan bertambah
    besar, lalu tegak lurus dengan
    batangnya, sehingga ia
    menakjubkan orang-orang yang
    menanamnya. (Begitu pula
    orang-orang Islam, pada mula-
    mulanya sedikit serta lemah,
    kemudian bertambah banyak
    dan kuat), supaya Allah
    memarahkan orang-orang kafir
    sebab mereka. Allah telah
    menjanjikan ampunan dan
    pahala yang besar untuk orang-
    orang yang beriman dan
    beramal salih diantara
    mereka”.Beliau berkata : Dari
    ayat ini, dalam satu riwayat
    dari Imam Malik, beliau
    mengambil kesimpulan bahwa
    golongan Rofidhoh (Syiah),
    yaitu orang-orang yang
    membenci para sahabat Nabi
    SAW, adalah Kafir.
    Beliau berkata : “Karena mereka
    ini membenci para sahabat,
    maka dia adalah Kafir
    berdasarkan ayat ini”. Pendapat
    tersebut disepakati oleh
    sejumlah Ulama. (Tafsir Ibin
    Katsir, 4-219 )

    9. IMAM AL QURTHUBI berkata :
    “Sesungguhnya ucapan Imam
    Malik itu benar dan
    penafsirannya juga benar,
    siapapun yang menghina
    seorang sahabat atau mencela
    periwayatannya, maka ia telah
    menentang Allah, Tuhan seru
    sekalian alam dan
    membatalkan syariat kaum
    Muslimin”. (Tafsir Al
    Qurthubi, 16-297)

    10. IMAM AHMAD AL KHALAL
    meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, ia berkata : “Saya
    bertanya kepada Abu Abdullah
    tentang orang yang mencela
    Abu Bakar, Umar dan Aisyah?
    Jawabnya, saya berpendapat
    bahwa dia bukan orang Islam”.
    ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).

    11. Beliau Al Khalal juga berkata :
    Abdul Malik bin Abdul Hamid
    menceritakan kepadaku,
    katanya: “Saya mendengar Abu
    Abdullah berkata : “Barangsiapa
    mencela sahabat Nabi, maka
    kami khawatir dia keluar dari
    Islam, tanpa disadari”.

    12. (Al Khalal / As Sunnah, 2-558).
    Beliau Al Khalal juga berkata : “
    Abdullah bin Ahmad bin Hambal
    bercerita pada kami, katanya :
    “Saya bertanya kepada ayahku
    perihal seorang yang mencela
    salah seorang dari sahabat Nabi
    SAW. Maka beliau menjawab :
    “Saya berpendapat ia bukan
    orang Islam”. (Al Khalal / As
    Sunnah, 2-558)

    13. Dalam kitab AS SUNNAH karya
    IMAM AHMAD halaman 82,
    disebutkan mengenai pendapat
    beliau tentang golongan
    Rofidhoh (Syiah) :“Mereka itu
    adalah golongan yang
    menjauhkan diri dari sahabat
    Muhammad SAW dan
    mencelanya, menghinanya serta
    mengkafirkannya, kecuali hanya
    empat orang saja yang tidak
    mereka kafirkan, yaitu Ali,
    Ammar, Migdad dan Salman.
    Golongan Rofidhoh (Syiah) ini
    sama sekali bukan Islam.”

    14. AL-FARIYABI AL KHALAL
    meriwayatkan, katanya : “Telah
    menceritakan kepadaku Harb bin
    Ismail Al Karmani, katanya :
    “Musa bin Harun bin Zayyad
    menceritakan kepada kami :
    “Saya mendengar Al Faryaabi
    dan seseorang bertanya
    kepadanya tentang orang yang
    mencela Abu Bakar. Jawabnya :
    “Dia kafir”. Lalu ia berkata :
    “Apakah orang semacam itu
    boleh disholatkan
    jenazahnya ?”. Jawabnya :
    “Tidak”. Dan aku bertanya pula
    kepadanya : “Mengenai apa
    yang dilakukan terhadapnya,
    padahal orang itu juga telah
    mengucapkan Laa Ilaaha
    Illalloh?”. Jawabnya :
    “Janganlah kamu sentuh
    jenazahnya dengan tangan
    kamu, tetapi kamu angkat
    dengan kayu sampai kamu
    turunkan ke liang lahatnya”. (Al
    Khalal / As Sunnah, 6-566)

    Diantara para Imam dan para Ulama yang telah
    mengeluarkan fatwa-fatwa tersebut adalah :

    IMAM MALIK
    ﺍﺍﻻﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻚ
    ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ :
    ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ : ﺍﻟﺬﻯ ﻳﺸﺘﻢ ﺍﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺍﻭ ﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ .
    ( ﺍﻟﺨﻼﻝ / ﺍﻟﺴﻦ : ۲،٥٥٧ )
    Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh
    berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang
    mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak
    termasuk dalam golongan Islam” ( Al Khalal / As
    Sunnah, 2-557 )

    IMAM AHMAD
    ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ ﺍﺑﻦ ﺣﻤﺒﻞ
    ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﺄﻟﺖ ﺍﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻤﻦ ﻳﺸﺘﻢ
    ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺎﺋﺸﺔ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻣﺎﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ
    ( ﺍﻟﺨﻼﻝ / ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲، ٥٥٧ )
    Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al
    Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu
    Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar,
    Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat
    bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal / As
    Sunnah, 2-557).

    AL BUKHORI
    ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ
    ﻗﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻣﺎﺃﺑﺎﻟﻰ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻰ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻰ
    ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ
    ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
    ( ﺧﻠﻖ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ :١٢٥ )
    Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja,
    apakah aku sholat dibelakang Imam yang
    beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku
    sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani.
    Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam
    pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi
    mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin
    dengan mereka dan tidak menjadikan mereka
    sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan
    yang disembelih oleh mereka. (Imam Bukhori /
    Kholgul Afail, halaman 125).

    AL FARYABI
    ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ
    ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻗﺎﻝ : ﺃﺧﺒﺮﻧﻰ ﺣﺮﺏ ﺑﻦ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﻜﺮﻣﺎﻧﻰ
    ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ ﺑﻦ ﺯﻳﺎﺩ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ ﻭﺭﺟﻞ
    ﻳﺴﺄﻟﻪ ﻋﻤﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺑﺎﺑﻜﺮ
    ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻓﺮ، ﻗﺎﻝ : ﻓﻴﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻗﺎﻝ : ﻻ . ﻭﺳﺄﻟﺘﻪ ﻛﻴﻒ ﻳﺼﻨﻊ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ
    ﻳﻘﻮﻝ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ،
    ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻰ ﺣﻔﺮﺗﻪ .
    ( ﺍﻟﺨﻼﻝ/ ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲،٥٦٦ )
    Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah
    menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al
    Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad
    menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al
    Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya
    tentang orang yang mencela Abu Bakar.
    Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah
    orang semacam itu boleh disholatkan
    jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku
    bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang
    dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga
    telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”.
    Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya
    dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan
    kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.
    (Al Khalal / As Sunnah, 6-566).

    AHMAD BIN YUNUS
    Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi
    menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi
    (Syiah) juga menyembelih seekor binatang,
    niscaya saya hanya memakan sembelihan si
    Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si
    Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari
    Islam”. (Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

    ABU ZUR’AH AR ROZI
    ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﺍﻟﺮﺍﺯﻯ
    ﺍﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
    ﻭﺳﻠﻢ
    ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺯﻧﺪﻳﻖ، ﻷﻥ ﻣﺆﺩﻯ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﺑﻄﺎﻝ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ .
    ( ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ : ٤٩ )
    Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang
    merendahkan (mencela) salah seorang sahabat
    Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia
    adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat
    membatalkan Al-Qur’an dan As Sunnah”. (Al
    Kifayah, halaman 49).

    ABDUL QODIR AL BAGHDADI
    Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah,
    Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang
    mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan
    sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut
    kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka
    tidak boleh di sholatkan dan tidak sah
    berma’mum sholat di belakang mereka”. (Al Fargu
    Bainal Firaq, halaman 357).
    Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka
    adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka
    menyatakan Allah bersifat Al Bada’

    IBNU HAZM
    Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan
    Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun
    sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya
    sudah diubah”.
    Kemudian beliau berkata : ”Orang yang
    berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah
    diubah adalah benar-benar kafir dan
    mendustakan Rasulullah SAW”. (Al Fashl, 5-40).

    ABU HAMID AL GHOZALI
    Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan
    terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar
    Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah
    menentang dan membinasakan Ijma kaum
    Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para
    sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan
    surga kepada mereka dan pujian bagi mereka
    serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan
    agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka
    serta kelebihan mereka dari manusia-manusia
    lain”.
    Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang
    begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia
    tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir,
    maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia
    telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang
    yang mendustakan satu kata saja dari ucapan
    beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang
    tersebut adalah kafir”. (Fadhoihul Batiniyyah,
    halaman 149).

    AL QODHI IYADH
    Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran
    orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam
    keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka
    lebih mulia dari pada para Nabi”.
    Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan
    siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, walaupun
    hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat
    yang diubah atau ditambah di dalamnya,
    sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan
    Syiah Ismailiyah”. (Ar Risalah, halaman 325).

    AL FAKHRUR ROZI
    Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya
    dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan
    Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
    Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum
    Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang
    mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang
    kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang
    artinya : “Barangsiapa berkata kepada
    saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah
    seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang
    kafir”.
    Dengan demikian mereka (golongan Syiah)
    otomatis menjadi kafir.
    Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat
    (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah
    sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh
    kehormatan (para sahabat Nabi)”.
    Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir
    siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari
    kalangan sahabat.
    (Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

    IBNU TAIMIYAH
    Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa
    Al-Qur’an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada
    yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa
    Al-Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran
    batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya.
    Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang
    kekafiran orang semacam ini”
    Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu
    murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak
    lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari
    mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan
    lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir.
    Karena dia telah mendustakan penegasan Al-
    Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat
    mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada
    mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini,
    adakah orang yang meragukannya? Sebab
    kekafiran orang semacam ini sudah jelas….
    (Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

    SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI
    Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab
    Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang
    terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang
    menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa
    yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu
    bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak
    sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya
    kekafiran mereka”. (Mukhtashor At Tuhfah Al
    Itsna Asyariyah, halaman 300).

    MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI
    Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan
    mencakup empat dosa besar, masing-masing dari
    dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-
    terangan.
    Pertama : Menentang Allah.
    Kedua : Menentang Rasulullah.
    Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan
    upaya mereka untuk melenyapkannya.
    Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang
    diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur’an telah
    dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang
    yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah
    SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci
    kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan
    disamping telah menjadi ketetapan hukum
    didalam syariat Islam yang suci, bahwa
    barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka
    dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam
    Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.
    (Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi
    Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)

    PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN
    Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata :
    “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini
    menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah
    dan menetapkan halalnya darah mereka, harta
    mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi
    budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi
    SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang
    menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW,
    mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh
    Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal
    Allah sendiri menyatakan kesuciannya,
    melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi.
    Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah
    SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur’an
    dari kekurangan dan tambahan”. (Nahjus
    Salaamah, halaman 29-30).
    Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari
    para Imam dan para Ulama yang dengan tegas
    mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci
    maki dan mengkafirkan para sahabat serta
    menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat
    serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an yang
    ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof).
    Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih
    tinggi (Afdhol) dari para Rasul.
    Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu
    pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap
    golongan Syiah.
    “Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang
    benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai
    pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa
    yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai
    orang yang menjauhinya.”

    Sumber : albayyinat.net

    KH. HASYIM ASY`ARI
    dalam kitabnya
    “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah
    Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada
    warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham
    Syi’ah. Menurutnya, madzhab Syi’ah
    Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan
    madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti
    adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
    Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak
    ada madzhab yang memenuhi persyaratan
    kecuali empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i
    dan Hambali. Adapun madzhab yang lain
    seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah
    Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga
    pendapat-pendapatnya tidak boleh
    diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li
    Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, hlm: 9).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s