Pengorbanan di Dalam Medan Dakwah


Ilustrasi, Pengorbanan di dalam medan dakwah“Sesungguhnya generasi pertama itu pergi sebagai api penyala buat tabligh dan sebagai bekal untuk menyampaikan kalimat yang tidak akan hidup kecuali dengan kalbu dan cucuran darah.”—Sayyid Quthb, dikutip oleh Abdullah Azzam dalam kuliahTarbiyah Jihadiyah-nya.

Merinding rasanya membaca untaian kalimat di atas. Jadi kecil sekali rasanya diri ini. Bertanya-tanya sendiri dalam batin, “Apa yang sudah saya sumbangkan untuk agama saya? Keletihan macam apa yang sudah saya berikan untuk andil dalam dakwah Islam yang menjadi bukti bagi pengakuan keimanan saya selama ini?”

Terlebih lagi jika membaca ayat Allah di dalam surat Ash-Shaff ayat kedua dan ketiga berikut ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“(2) Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3)

Allah sangat membenci orang yang mengajak-ajak orang lain untuk berislam dan beribadah dengan baik, sementara ia sendiri melupakan dan membiarkan dirinya leleh tak berguna akibat perilakunya yang berseberangan dengan ajakannya. Maka, di sini dibutuhkan pembuktian atas pengakuan iman. Demikian pula ketika ia mulai mendakwahkan keyakinannya kepada pihak lain, tentunya akan lebih mengena jika dia telah fasih mempraktekkan apa yang ia ajarkan kepada obyek dakwahnya.

Pengakuan iman itu bukan hanya di bibir saja. Tetapi, harus menyatu dalam daging dan darah pengucap kalimat syahadat. Artinya, harus dibuktikan dan diperlihatkan dalam bentuk nyata secara fisik di alam dunia ini. Jika hanya klaim kosong tanpa pembuktian, semua orang pun bisa melakukan. Tetapi, apakah itu yang diminta Allah dari hamba-Nya? Tentu bukan. Yang diminta Allah pastilah kalimat syahadat lengkap dengan implementasinya yang benar-benar hidup. Sehingga, jika seorang hamba mengajak orang lain untuk mendekat kepada Islam, mendekat kepada Allah, ucapannya akan merasuk ke dalam hati si penerima ajakan. Sebab, kalimat-kalimat ajakannya telah diisinya dengan bobot keimanan yang nyata. Kata-katanya telah ia bumbui dengan perasaan tulus dari hati terdalam dan ia sirami pula dengan tetesan keringat dan bahkan cucuran darah dalam upayanya mengimplementasikan materi dakwahnya.

Itulah hal yang telah dilewati oleh para sahabat Nabi yang kalimat-kalimat dakwah mereka selalu terkenang harum sepanjang sejarah umat manusia. Itu tidak lain lantaran tindak perbuatan mereka seiring dan sejalan dengan ucapan-ucapan mereka. Kata-kata mereka seakan mujarab dan selalu hidup di tengah-tengah umat. Tetesan darah mereka menyirami kata-kata itu hingga menjadi subur dan terus tumbuh berkembang sepanjang masa. Mereka menjadi ‘tumbal’ bagi misi dakwah yang mereka emban. Mereka mati di atas jalan dakwah yang menjadi pilihan sadar mereka. Jalan pengorbanan yang pernah Rasul contohkan kepada para pengikutnya lewat kaul legendarisnya.

“Wahai, Paman. Demi Allah, sekiranya mereka dapat meletakkan bumi di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan misi dakwah ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku mati dalam membela misi ini.”

Untuk menjadi kuat seperti itu, kuncinya ada pada kekuatan ruh. Kekuatan ruh terbangun dengan kokoh sebagai hasil dari ibadah-ibadah harian yang dilaksanakan dengan penuh disiplin. Ayat Al-Quran dan ucapan Sayyid Quthb di muka mengingatkan para dai dan aktivis pergerakan Islam agar senantiasa menjaga amalan ibadah harian, merefleksikan nilai-nilai akidah Islam dalam tata perilaku akhlak yang mulia, serta menjaga kesesuaian antara lisan dan perbuatan dengan keukeuh hingga akhir hayatnya. Sehingga, apa yang diucapkannya benar-benar hidup dan menyentuh hati yang hidup pula. Tutur nasehat mereka disambut hangat oleh pendengarnya. Meski, terkadang sebenarnya terasa pahit dalam hati mereka. Namun, dengan sikap sidiq yang melekat pada dirinya, kepahitan-kepahitan itu mampu mereka telan karena resep obat itu direkomendasikan oleh orang yang sangat mereka percayai sepenuhnya.

*Hafidz Abu Imron, adalah seorang penggiat dakwah yang berdomilisi di daerah Sukoharjo. Sebuah daerah yang bersebelahan dengan kota Solo. Kini beliau aktif dalam tulis-menulis dalam berbagai media Islam. Jika ingin berhubungan dengan penulis bisa menghubungi laskarpena007@yahoo.com atau di akun FB: Laskar Pena (AN NAJAH.NET)

By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s