GERAK POLITIK SALAFI & PILPRES 2014


Ust. Firanda, Pengarah Politik 'Salafi'ISTIQOMAH NEWS: Pilpres menjadi topik hangat masyarakat Indonesia. Hingar bingar pilpres terjadi dimana-mana. Tradisi lima tahunan ini banyak menyita waktu, pikiran dan tenaga. Triliyunan dana dikucurkan hanya menyukseskan budaya suksesi kepemimpinan tersebut. Berbagai kampanye, saling serang antar dua kandidat menjadi menu harian. Masing-masing ingin menunjukkan yang paling layak dan pantas memimpin negeri ini.

Seperti biasa, umat Islam menjadi bahan rebutan. Persis sebagaimana hadits Rasulullah yang menjelaskan umat Islam bagaikan hidangan yang akan menjadi santapan lezat. Potensi dan jumlah yang besar menjadikan sasaran empuk. Mereka tergiur untuk mendapatkan simpati  dan lumbung dukungan dari  kaum muslimin.

Berbagai cara dilakukan, mulai silaturahmi kepada para kyai, ulama, habaib dan ustadz. Berkunjung ke berbagai pesantren. Mengeluarkan dalil-dalil al Qur’an untuk mendukung calonnya. Pakaian yang nampak agamis dan religius, serta janji-janji manis yang mereka tebar untuk meluluhkan hati umat Islam.

Gerakan saling dukung mendukung marak terjadi. Tak terkecuali dengan umat Islam. Hal yang menarik adalah sikap kelompok Salafi Indonesia yang secara terang-terangnya mendukung pasangan Prabowo-Hatta.  Tokoh muda Salafi Yogyakarta, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal mengajak kaum muslimin untuk memilih pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Hatta. Menurutnya, hanya pasangan ini yang bisa memberikan harapan kepada umat Islam. “Ya Allah, mudah-mudahan kemenangan berpihak pada Prabowo – Hatta yang disokong oleh partai-partai Islam,” kata Abduh Tuasikal dalam laman Facebooknya.

Jauh sebelum pemilihan presiden, ust. Firanda –mainstream– gerakan salafi Indonesia hari ini secara terang-terangan menyerukan kelompok salafi untuk menggunakan hak pilihnya. Ust. Firanda tanpa sungkan-sungkan menyebut PKS sebagai partai Islam yang layak untuk dipilih. Hak politiknya ini berdasarkan ijtihad para ulama seperti Syaikh Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Abdul Muhsin Abbad.

Salafi memang sebuah manhaj bukan madzhab. Siapapun yang bermanhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah mereka adalah salafi. Istilah salafipun disandarkan kepada generasi salaf, yaitu Rasulullah, sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Akan tetapi ketika berbicara tentang salafi sebagai sebuah gerakan, mau tidak mau akan merujuk kepada kelompok salafi, baik yang ada di Indonesia maupun di berbagai negara lain.

 

Politik Salafi dan Potret Buram Salafi Mesir

Membaca gerakan salafi dalam politik, tidak bisa dilepaskan dari pemahaman dasar mereka yang menyebut bahwa siapun pemimpinnya adalah sebagai ulil amri. Karena itu, ketaatan kepada ulil amri menjadi sebuah keharusan. Artinya, siapapun yang keluar dari ketaatan, melawan ataupun memberontak, salafi menganggap mereka sebagai bughot atau khawarij.

 

Sebagai sebuah gerakan,  ulil amri menurut salafi secara mutlak harus ditaati. Tanpa melihat hukum dan status negara tersebut. Dengan sikap ini, tak heran,  pertentangan salafi dengan kelompok-kelompok Islam cukup tajam. Karena itu, dukungan kepada PKS dalam pileg lalu cukup mengejutkan, melihat rekam jejak yang hampir tidak pernah menyatu dengan gerakan-gerakan Islam lainnya. Bahkan secara internal, pertentangan antar kelompok salafi juga cukup tajam. Garis ketaatan dan komunitas akhirnya beralih kepada figur-figur ustadz  yang secara tidak langsung menciptakan ‘raja-raja’ kecil.

Di Indonesia, perkembangan salafi cukup pesat. Jakfar Umar Tholib adalah salah seorang tokoh pembawa gerakan salafi di Indonesia. Namanya cukup populer, terutama dengan gerakan laskar jihad saat konflik Ambon meletus.

Di kalangan tradisional, antara NU dan salafi sering terjadi gesekan. Hal ini tidak lepas dari sikapnya yang tegas terhadap berbagai bentuk bid’ah. Namun terhadap pergerakan lain, salafi juga sering berbenturan. Ini sebagai imbas dari pemahaman bahwa kelompok-kelompok Islam hari ini adalah hizbiyah, bid’ah. Sementara bagi kalangan jihadis, salafi dianggap lebih condong dengan pemahaman Murji’ah, sehingga muncul istilah neo murji’ah, sebuah nama yang sering disematkan kepada kelompok salafi sebagaimana salafi sering menyematkan kelompok jihadis dengan sebutan khowarij.

Karena itu, sikap salafi yang mendukung capres dalam pemilihan presiden cukup menarik. Dari sikap apatis, tidak sesuai dengan sunah dan bahkan pilpres adalah bid’ah, akhirnya pemahaman ini harus direvisi dan runtuh saat tokoh-tokohnya mulai mengeluarkan statmen dukungan dalam pilpres.

Namun, jika dicermati, sikap ini bukanlah asing dan berdiri sendiri. Di Mesir, salafi lebih dulu terjun dalam dunia politik praktis. Partai Salafi Mesir, Hizbun Nuur, dan Majlis Syuro Jamaaah Dakwah Salafi memberikan dukungan kepada Marsekal Abdul Fattah al-Sisi, jenderal yang menggulingkan Mursi. Di antara alasan mereka mendukung Jenderal al-Sisi bahwa dia sebagai seorang yang nasionalis, pintar, kapabel dan tidak memiliki ideologi anti Islam.

Ketika terjadi pembunuhan terhadap aktivis-aktivis Ikhwanul Muslimin, Salafi masih tetap dengan keyakinannya untuk mendukung Jenderal al-Sisi memulihkan dan menstabilkan keadaan. Salafi juga tidak menentang dan mengecam berbagai pembantaian yang dilakukan Jenderal al-Sisi terhadap para aktivis Islam. Sikap ini yang menjadikan sorotan bagi umat Islam. Salafi Mesir nyaman bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang memusuhi Islam. Inilah potret buram gerakan salafi.

Lalu, bagaimana wajah politik salafi Indonesia? Nampaknya masih sulit untuk menemukan jawabannya. Dukungan dalam pileg dan pilpres bisa jadi hanyalah letupan-letupan kecil yang tidak bisa dijadikan justifikasi mainstream gerakan tersebut. Atau memang sebaliknya, ini langkah awal untuk mulai menapaki jejak politik sebagaimana yang ada di Mesir. Wallahu’alam. (AN NAJAH))

By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s