Sandiwara Gelap Amerika dan Iran di Pentas Politik-Ekonomi


IlustrasiISTIQOMAH NEWS: Dalam dunia politik, segala sesuatu dapat berubah, musuh kemarin dapat berubah menjadi kawan pada hari ini, sedang kawan kemarin dapat beralih menjadi lawan pada hari ini. Itulah makna yang dapat dipetik dari realita kedekatan antara Iran dan musuh bebuyutannya Amerika. Yaitu kedekatan yang menyebabkan cap sebagai “setan besar” dan ancaman “kematian bagi Amerika” dicabut beberapa hari sebelum perjanjian bilateral antara kedua negara tersebut

Atas dasar kesepakatan tersebut, embargo ekonomi bagi Iran akan dikurangi secara bertahap. Kekayaannya yang “dipeti-eskan” di Amerika dan beberapa negara lainnya juga akan dibebaskan. Iran juga akan mendapat keuntungan USD 1,5 miliar dari bisnis emas dan logam mulia. Larangan beroperasi bagi Bank Sentral Iran, ekspor minyak dan teknologi sipil juga segera dicabut. Izin penggunaan deposito Iran dalam pembelian suku cadang untuk pesawat sipil dan lainnya. Suspensi beberapa sanksi terhadap sektor otomotif dan ekspor petrokimia dari Iran. Memungkinkan kelangsungan harga pembelian minyak Iran pada level yang cukup murah seperti saat ini. Akan memperoleh izin mentransfer USD 4,2 miliar dari penjualan tersebut secara berangsur. Dan juga akan mendapatkan pengakuan atas peran dan pengaruh Iran secara regional di kawasan Arab jika kesepakatan ini benar-benar diterapkan.

Pencabutan embargo dan keuntungan bagi Iran tersebut diberikan sebagai kompensasi atas kesediaan negara tersebut untuk tidak meningkatkan aktivitas nuklirnya dari batas yang ada saat ini.
Iran juga telah menyetujui untuk kelonggaran bagi inspektur IAEA untuk mengunjungi fasilitas nuklirnya dan suspensi beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pengayaan uranium sebesar 20% selama tiga tahun. Tapi para perunding Iran tetap bersikeras menyatakan bahwa negaranya memiliki hak memperoleh energi nuklir.

Beberapa analisis menunjukkan bahwa perkembangan ini lahir dari kemerosotan ekonomi yang melanda AS yang terjadi sejak tahun 2008 sebagai ekses dari krisis ekonomi global. Dan akibat dari biaya perang AS terhadap Afghanistan, Iran dan negara-negara lainnya. Ditambah dengan menurunnya pengaruh AS terhadap beberapa negara Arab. Selain diperparah dengan upaya beberapa negara, seperti Rusia, untuk menanamkan pengaruhnya di kawasan ini dengan memanfaatkan konflik yang ada.
Semua hal itu mendorong AS mencoba untuk lebih fokus dan menutup beberapa kancah pertarungan selama beberapa waktu, agar dapat fokus pada titik pertarungan lainnya terutama masalah Mesir yang merupakan khazanah strategis bagi Amerika.

Beberapa analisis juga menduga bahwa saat ini kita dipersembahkan sebagai tunjangan bagi Sykes-Picot baru yang di dalamnya dipetakan kembali kawasan Arab dan didistribusikan ke beberapa kekuatan global di bawah kontrol dan dominasi Barat dan Amerika.

Secara global, Iran dan Barat pada umumnya dan Amerika pada khususnya sepakat bahwa musuh bersama mereka adalah kelompok Sunni bersenjata. Mereka bekerja sama untuk menghadapi kelompok-kelompok Sunni tersebut. Kemungkinan kerja sama ini semakin ditingkatkan di masa mendatang untuk memusnahkan gerakan-gerakan jihad di kawasan Arab. Terutama jika dipandang bahwa kelompok-kelompok jihad itu merupakan tantangan dan penghalang utama bagi perluasan pengaruh di kawasan ini.

Berbagai analisa dan prediksi itu lahir setelah dikagetkan dengan perubahan hubungan antara Amerika dan Iran yang muncul secara tiba-tiba.

Sebenarnya orang yang mengikuti dan mengamati watak hubungan Barat secara umum dan Amerika secara khusus dengan Iran sadar bahwa hubungan mereka tidak pernah terputus sepanjang sejarah, bertolak dari konflik mencari pengaruh hingga kesamaan tujuan, ambisi dan ekspansi.

Hubungan antara kaum Syi’ah dan Barat belum terputus sejak AS belum lahir dan sebelum beralihnya negeri Persia menjadi Syi’ah yang disusul dengan penggantian nama negara menjadi Iran. Hubungan tersebut terus berkembang, bermula dengan koalisi Syi’ah dengan pasukan Salib, menyusul koalisi dinasti Shafawi dengan negara-negara Eropa melawan khilafah Utsmaniah, seperti Hungaria, Austria, Prancis dan Inggris.

Pada masa pemerintahan Dinasti Pahlevi pada awal abad ke-XX, hubungan Iran dengan Inggris yang merupakan negara superpower waktu itu semakin kuat. Inggris berperan sangat penting dalam menjatuhkan khilafah Utsmaniah. Shah Muhammad Reza Pahlevi yang pernah mengenyam pendidikan di Swiss memiliki hubungan yang sangat kuat dengan intelijen Inggris lewat sosok Monsieur Brown. Inggris juga berjasa membantu Shah Muhammad Reza Pahlevi merebut kekuasaan dari orang tuanya pada tahun 1941 H.

Setelah Amerika menerima bendera hubungan tersebut dari Inggris, AS juga melanjutkan hubungan tersebut. Di mana AS berhasil membantu Shah Muhammad Reza Pahlevi untuk kembali berkuasa lagi setelah revolusi Mossadegh tahun1963. Selanjutnya Shah Reza aktif menjadi anggota di American Club of Employment.
Selanjutnya, AS menjadikan Iran sebagai drama untuk mencapai kepentingan mereka di kawasan Arab secara keseluruhan. Sejak itu pula hubungan kedua negara tersebut terus berjalan dan tidak putus hingga kini.
Setelah peran Shah Reza Pahlevi berakhir dan Amerika memandang bahwa Pahlevi tidak cocok lagi menjadi agen. Seiring dengan awal meningkatnya pengaruh oposisi kaum Mullah dari jalan-jalan Iran, Amerika segera memberi lampu hijau kepada kaum Mullah tersebut untuk bergerak ke arah revolusi. [1]

Rahasia itulah yang dibeberkan oleh mantan Presiden I Iran pasca revolusi Khomeini, Abol Hassan Bani Shadr dalam acara “Kunjungan Spesial” di Al-Jazeera TV pada Desember 2000 silam. [2]

Shadr menceritakan, “Delegasi dari Gedung Putih datang untuk bertemu dengan Khomeini di Mavla Chateau, tempat pengasingannya di Prancis. Mereka diterima oleh Ibrahim Yazdi, mantan Menteri Luar Negeri Iran pada era pemerintahan Mehdi Pazakan. Di Teheran telah diadakan konferensi yang dihadiri oleh masing-masing Duta Besar Amerika di Teheran, Mehdi Pazakan yang kemudian menjadi Perdana Menteri Iran, dan Mousavi Erdavli, salah satu mullah yang pada gilirannya menjadi kepala Dewan Pengadilan Tinggi Iran. Dalam pertemuan itu, para peserta konferensi mencapai kesepakatan bahwa para tokoh agama harus bersekutu dengan tentara dalam rangka membangun sistem politik yang stabil di Teheran.”

Dalam salah satu pernyataannya pada sebuah wawancara dengan Koran Paris Match, Ayatollah Rouhani, yang merupakan perwakilan Khomeini di Washington, ketika Khomeini masih berada di Prancis, Rohani mengatakan:”Saya yakin bahwa Amerika telah memberi kita lampu hijau.” (Dikutip dari sebuah tulisan:Wailun lil Arab/Celakalah Orang-orang Arab, karya Abdel Moneim Shafiq).

Saat Bani Shadr ditanya pada siaran tersebut: Apakah ada komunikasi yang intensif antara para Mullah dengan pihak Amerika secara rahasia? Ia menjawab:”Iya, iya. Sering kali ada pertemuan. Pertemuan yang paling terkenal adalah pertemuan mendadak pada bulan Oktober di sini, kota Paris. Dalam pertemuan ini, telah ditandatangani MOU antara kelompok Reagan-Bush dan komunitas Khomeini”.

Dalam wawancara itu, Bani Sadr juga membeberkan bahwa:”Telah diadakan pertemuan antara kelompok (Reagan-Bush) dan kelompok Khomeini, yang diselenggarakan di Paris, dan ada kesepakatan… maka saya menulis kepada Khomeini menjelaskan kepadanya informasi ini. Saya tidak percaya kalau dia mengetahui hal itu. Saya berpikir bahwa Khomeini berada di luar permainan. Tapi bagaimana Anda menjelaskan realita pelepasan sandera pada malam pelantikan Presiden Reagan?!”

Bani Sadr juga menuturkan: Bani Sadr juga menuturkan: Reza Basen dada, keponakan Khomeini pernah berkunjung ke Madrid untuk bertemu dengan pejabat AS dan setelah kembali ke Iran ia meminta bertemu dengan saya. Ia mengatakan bahwa dirinya berkunjung ke Madrid lalu pihak Amerika minta untuk bertemu dengannya. Kemudian mereka memberinya usulan proyek kelompok (Reagan-Bush). Reza mengatakan kepadaku: Jika Anda terima proyek-proyek ini maka Reagan akan memenuhi semua permintaan Iran saat kelompok Reagan memegang kekuasaan. Ia juga mengancam aku, jika aku menolak usulan tersebut maka mereka akan berkoalisi dengan lawan-lawan politikku.

Apakah Anda dapat membayangkan bahwa keponakan Khomeini bias keluar dari Iran tanpa izin dari pamannya?! Reza tidak mengatakan kepada saya bahwa ia keluar dari Iran untuk menemui mereka. Aku katakana bahwa: Mungkin ia berkunjung ke Eropa, lalu kita baca dalam sebuah tulisan bahwa ia diundang untuk tujuan tersebut.”

Tentang Khomeini, Bani Sadr menyatakan bahwa: “Dia ingin membentuk ikatan Syi’ah yang bertujuan untuk menguasai dunia Islam. Ikatan yang dimaksud terdiri dari Iran, Irak, Suriah, dan Lebanon. Jika dirinya berhasil menjadi pemimpin ikatan ini, ia akan menggunakan minyak dan posisi Teluk Persia sebagai senjata untuk menguasai dunia Islam. Khomeini yakin bahwa Amerika akan memberikan jalan baginya untuk menjalankan strategi tersebut.”

Saya menyampaikan kepada Khomeini: Pihak Amerika akan mengkhianatimu. Meski aku menasehati, dan Presiden Arafat juga menasehatinya untuk hati-hati terhadap niat Amerika, Khomeini tidak dapat diyakinkan.”[3]

Mustafaal-’Ani, seorang analis Irak yang bermukim di Dubai menyatakan:”Pihak AS telah mewujudkan impian Ayatullah Khomeini, mendiang pemimpin tertinggi Iran secara gratis. Impian yang tidak tercapai melalui perang bersama Iran selama delapan tahun.”[4]

Pada tahun 1984, Khomeini telah memberi lampu hijau untuk melakukan pembicaraan rahasia dengan Amerika Serikat melalui Israel. Laporan yang terbit seputar Iran Jet membeberkan tingkat perjanjian rahasia antara Khomeini dengan Amerika. Tetapi proyek tersebut lumpuh secara total saat Ayatollah Hossein Ali Montazeri memutuskan untuk menghentikan komunikasi rahasia antara Teheran dan Washington yang berakhir dengan pengasingan Montazeri dari Teheran.[5]

Pada tahun 1986, Penasihat Keamanan Nasional AS, Bed Mc Farlane melakukan kunjungan rahasia ke Teheran. Ia bersama rombongan terbang dengan mengunakan pesawat yang mengangkut peralatan militer ke Iran. Delegasi yang menyertainya membawa kue yang dibentuk seperti kunci sebagai simbol kunci pembuka persahabatan antara kedua negara. Delegasi juga menyerahkan kitab Injil yang ditandatangani oleh Presiden Reagan. Terungkapnya kunjungan ini menjadi isu hangat yang dikenal pada waktu dengan istilah”Iran Jet”[6]

Masalah “Iran Jet” atau “Iran-Contra” itulah yang mengantar terjadinya penandatanganan perjanjian antara Presiden Reagan dengan pihak Iran pada tahun 1985. Perjanjian ini menghasilkan kesepakatan: Iran menjual kepada AS sekitar 3.000 roket “Tao” anti-tank melalui Israel. Dan menggunakan dana penjualan untuk membiayai gerakan “Contras” yang anti rezim komunis di Nikaragua.

Hubungan bilateral antara Amerika dan Iran tidak pernah putus. Hubungan rahasia dengan Amerika yang digelari Iran sebagai “setan raksasa” tetap berlangsung pasca Khomeini. Di era Rafsanjani, Amerika dan Iran senantiasa melakukan koordinasi selama Perang Teluk II. Kesempatan tersebut sangat menguntungkan bagi Iran untuk mengalahkan Irak sebagai musuh bebuyutannya.

Hubungan tersebut semakin kuat dan meluas di era Muhammad Khatami. Di eranya, hubungan mereka beralih dari hubungan rahasia menjadi hubungan terbuka untuk pertama kalinya sejak revolusi Khomeini.

Mantan Duta Besar AS untuk Qatar, Joseph Col Ksenan menyatakan: “Presiden AS akan membatalkan keputusan yang melarang perusahaan-perusahaan Amerika berurusan dengan Teheran sebelum akhir tahun 1999. ” Ia juga menyatakan bahwa: “Clinton telah menyimpan naskah resolusi yang telah disahkan oleh Kongres di Irak. Yaitu resolusi yang melarang perusahaan Barat bekerja sama dengan Iran. Ia mengisyaratkan bahwa resolusi ini akan berakhir secara otomatis pada tahun 2001. Jojasaan juga menyatakan keyakinannya bahwa resolusi tersebut tidak akan diperpanjang. Ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika akan segera kembali bekerja di Iran.”[7]

Pernyataan tersebut, diperkuat dengan permohonan maaf Presiden AS Bill Clinton kepada Iran pada bulan April 1999 atas ketidakadilan kebijakan AS terhadap Iran.

Koordinasi Amerika-Iran mencapai puncaknya pasca peristiwa September, dan setelah Iran membantu Amerika dalam upaya pendudukan Afghanistan pada tahun 2001 dan pendudukan Irak pada tahun 2003. “Tanpa bantuan Iran, Amerika Serikat tidak akan berhasil menduduki Irak dan Afghanistan.” Sebagaimana diakui oleh para pemimpin Iran, utamanya Khatami, saat menjabat sebagai presiden pada akhir tahun 2004. Pernyataan itu juga telah dilontarkan sebelumnya oleh wakilnya Muhammad Ali Abtahi pada awal tahun 2004 dalam sebuah seminar internasional di Dubai. Lalu diulang-ulang oleh Hashemi Rafsanjani selama kampanye pemilu tahun 2005.

Irak telah dibagi antara Amerika dan Iran, di mana Iran mendapatkan pengaruh penuh atas Irak. Yaitu pengaruh yang tidak pernah suatu hari pun dimimpikan untuk mendapatkannya. Pemberian tersebut sebagai konpensasi atas penjualan minyak dan pengaruh politik AS di Irak dan Teluk.

Pemerintah Irak yang berideologi syiah itu, juga telah melakukan transaksi dengan empat perusahaan minyak AS. Yaitu Exxon Mobil, Shell, Total, dan British Petroleum, yang telah menjadi mitra bagi Irak Petroleum Company sejak beberapa dekade, menyusul masuknya perusahaan Chevron dan perusahaan minyak kecil lainnya. Tujuannya adalah untuk memperbarui konsesi minyak yang mereka tidak dapatkan saat terjadi nasionalisasi produsen minyak selama bertahun-tahun.

Perusahaan-perusahaan minyak AS benar-benar telah menguasai produksi minyak di Irak dan berhasil mengeluarkan lebih dari 40 perusahaan dari negara-negara lain seperti China, India dan Rusia.

Fakta ini memperkuat pernyataan bahwa pendudukan Irak tidak terjadi kecuali untuk melahap kekayaan Irak melalui kesepakatan eksploitatif yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Yang terpenting bagi politisi Amerika adalah bagaimana agar Irak tetap tunduk semaksimal mungkin di bawah kontrol AS sebagai bangsa penurut dan siap menjadi pangkalan militer utama AS di jantung cadangan energi yang paling penting di dunia. Hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan bantuan Iran dan Syiah Irak.

Menurut dokumen “Deklarasi Prinsip-prinsip”yang ditandatangani antara kedua negara, yang secara eksplisit memuat hak eksploitasi kekayaan Irak, telah dinyatakan bahwa ekonomi Irak dan sumber daya minyaknya harus terbuka untuk investasi asing,”utamanya investasi Amerika.”

Rahasia utama dibalik hubungan ini adalah Amerika Serikat sepakat dengan Syiah bahwa musuh utama mereka adalah gerakan Islam Sunni, yang menjadi penghalang utama masuknya imperialisme AS ke seluruh dunia Islam, terutama di Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, dan lain-lain.

Situasi yang baru di wilayah Arab ini, didesain dengan sangat hati-hati setelah peristiwa 11 September dan setelah pendudukan Irak. Di mana Amerika memberi Iran lampu hijau untuk menyerang Islam Sunni dan gerakan Muslim Sunni di Irak dan Suriah. Juga memberi lampu hijau bagi Iran untuk mewujudkan impiannya mengekspor revolusi dan ikatan Syiah dan mengepung dunia Muslim Sunni. Menuju pembentukan kembali Kekaisaran Persia untuk menata dunia Muslim. Padahal Amerika tidak mengizinkan negara manapun memiliki preferensi di luar wilayah perbatasannya, seperti yang terjadi dengan Serbia, India dan lain-lain.

Termasuk hal yang aneh, bagaimana Amerika bisa memberi lampu hijau kepada suatu negara “Islam” untuk menerapkan hokum Islam, apalagi menjalin hubungan yang sangat kuat dengannya. Padahal Amerika dengan segala dayanya berupaya untuk menggulingkan rezimIslam Sunni Taliban.[8]

Kini, kita di ambang babak baru hubungan antara AS-Iran yang pada beberapa tahun sebelumnya berada pada posisi Tarik ulur.

Pada dasarnya, AS tidak pernah tidak terlibat konflik nyata dengan Iran. Buktinya, saat Irak mulai mencanangkan penciptaan reaktor nuklir, fasilitasnya langsung dimusnahkan oleh AS pada tahun 1981. Tetapi hal itu tidak terjadi dengan Iran.

Hal yang sebenarnya terjadi adalah hubungan rahasia antara kedua Negara itu telah berubah menjadi hubungan yang transparan sehingga konvensi-konvensi mereka dilihat dan didengar di seluruh dunia.

Pada bulan Mei 2003,dan tak lama setelah invasi AS ke Irak, unsur-unsur pemerintah Iran, yang dipimpin oleh Muhammad Khatami mengajukan usulan rahasia berupa “grand bargain” melalui saluran diplomatic Swiss. Dengan transparan, unsur-unsur pemerintah itu mempresentasikan program nuklir Iran dan penarikan dukungan terhadap Hamas dan Hizbullah. Kompensasinya adalah jaminan keamanan dari Amerika Serikat dan normalisasi hubungan diplomatik antara kedua negara. Mereka juga mengatakan bahwa pemerintahan Bush tidak menanggapi usulan ini, dan para pejabat senior AS meragukan orisinalitas usulan tersebut. Padahal usulan tersebut mendapat dukungan yang sangat luas dari pemerintah Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Khamenei.[9]* (AK/Kiblat)

Catatan Kaki:

[1]http://www.saaid.net/Minute/138.htm.
[2]http://www.aljazeera.net/programs/pages/a8ecee83-6b58-42ed-92b7-bf45820313f7.
[3]http://www.aljazeera.net/programs/pages/a8ecee83-6b58-42ed-92b7-bf45820313f7.
[4]Al-Duwal al-Mujawirah li al-Iraq Takhsya Syabah Tawalli al-Syi’ah al-Sulthah, lihat: Koranal-Bayanyang terbit di Uni Emirat Arab, Rabu, tanggal 19/1/2005.
[5]Dinukil dari: Jurnalis Iran, Amir Taheri, koranal-Syarq al-Ausath, edisi No. 6986.
[6]CatatanMenteri Luar Negeri ASGeorgeShultz, Nasrwa Idhthirabat, (hal.275),terbitanal-Ahliah li an-Nasyr,CetI, tahun1414H/1994M.
[7]Koranal-Hayat, edisi No. 13056, tanggal 13/08/1419H-02/12/1998M.=
[8]Rafat Salahuddin, al-’Alaqah baina al-Arab wa Iran, 

[9]Valez, Ali (29 February 2012), Why Iran Sanctions Won,>t Work, CNN.com. dibaca pada tanggal, 12 Maret 2012.

(ANNAJAH.NET)

By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s