Berdoalah untuk Mujahidin


Ilustrasi, doa

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَعَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. (Qs. Ghofir: 60)

Doa adalah senjata utama bagi setiap pejuang. Sayangnya, banyak yang melupakannya saat kesempatan dan waktu-waktu mustajab tiba. Doa juga sebagai benteng untuk berlindung bagi setiap pejuang di saat menghadapi kebengisan musuh dan kesewenang-wenangannya. Bahkan ia sebagai awal peperangan maknawi sebelum peperangan secara fisik.

Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa suatu kali Nabi SAW shalat di dekat ka’bah. Sedangkan Abu Jahal dan rekan-rekannya sedang duduk-duduk menonton. Sebagian di antara mereka ada yang berkata pada sebagian yang lain. “Siapa di antara kalian yang berani mengambil kotoran onta yang disembelih di Bani Fulan, lalu mengguyurkannya di punggung Muhammad selagi sedang shalat?”

Kemudian manusia yang paling celaka, Uqbah bin Mu’ith, menyanggupinya. Dia menunggu dan memandang. Tatakala beliau sedang sujud kepada Allah, ia meletakkan kotoran itu di antara pundak beliau. Abdullah bin Masud hanya bisa mengawasi dan tidak mampu berbuat apa-apa, tidak ada orang yang bisa mencegah aksi jahat Uqbah. Orang-orang quraisy terbahak-bahak, sehingga badan mereka terguncang-guncang mengenai teman di sampingnya. Saat itu Rasulullah SAW sedang sujud, tetap dalam keadaan sujud dan tidak mengangkat kepala hingga Fatimah datang menghampiri beliau dan membuang kotoran tersebut dari punggung beliau. Baru setelah itu beliau mengangkat kepala kemudian berdoa. “Ya Allah hukumlah orang-orang Quraisy ini!”. Beliau ucapkan doa itu tiga kali. Orang musyrik Quraisy langsung tersentak diam karena beliau mendoakan kecelakaan bagi mereka.

Abdullah bin Mas’ud berkata lagi, “Sementara mereka tahu bahwa doa di tempat beliau itu pasti mustajab.” Kemudian beliau menyebut nama-nama mereka, “Ya Allah, hukumlah Abu Jahal, hukumlah Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bi Utbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu’ith.”

Demi yang jiwaku di tangan-Nya, aku melihat sendiri orang-orang yang disebut Rasulullah SAW ini menjadi korban di dalam sumur saat perang Badar. (HR. Bukhari 1/37).

Itulah gambaran doa yang dilantunkan Rasulullah SAW untuk orang-orang kafir. Betapapun bengisnya mereka, secara mental mereka takut dengan doa yang kita panjatkan. Apalagi doa itu diucapkan di depan mereka, pasti mental mereka akan turun karena sebenarnya mereka mengetahui bahwa jalan mereka adalah jalan kebatilan.

Tafsir

 Berkata Ibnu Katsir, “Ini di antara keutamaan Allah bahwasanya Ia senang jika hamba-Nya berdoa kepada-Nya. Dan Ia menjamin bagi mereka untuk mengabulkannya.” [Tafsir Ibnu Katsir 7/153 maktabah syamilah]

Inilah salah satu wujud rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan juga nikmat dari-Nya yang agung. Di mana Allah mengajak mereka kepada hal yang bisa memperbaiki din dan dunia mereka. Dan memerintahkan mereka untuk berdoa dalam urusan ibadah dan apa saja yang mereka inginkan. Dan menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan doa mereka. Dan mengancam kepada orang yang sombong dengan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Yaitu hina dan rendah yang berkumpul atas mereka adzab dan kehinaan sebagai balasan atas kesombongan mereka. [Tafsir As Sa’di 1/740 maktabah syamilah ].

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di atas mimbar: “Doa adalah ibadah“. Kemudian membaca surat ghofir ayat 60. [HR. Abu Daud & At Turmudzi dan beliau berkata: ini hadis hasan shahih ].

Jika Allah Ta’ala menjamin terkabulnya doa, tentu kita yang memiliki cita-cita tegaknya syari’at Islam tidak akan lupa mendoakan para mujahidin. Selipkan doa untuk mereka apalagi di bulan Ramadhan ini. Karena salah kemuliaan bulan ini, yaitu menjadi waktu mustajab untuk berdoa.

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizholimi”. (HR. At Tirmidzi no. 3598. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Selagi masih diperbolehkan

Saudi adalah negeri yang dikenal amat kuat mengontrol warganya. Sejak Amerika masuk ke Saudi, banyak kebijakan-kebijakan negara tersebut yang dikontrol oleh Amerika. Bahkan negara tidak segan-segan mencabut kewarganegaraan warganya jika terindikasi bergabung dengan jama’ah-jamaah jihad. Ceramah-ceramah di mimbar pun dibatasi. Bahkan sekadar berdoa kepada para mujahidin pun dilarang dipanjatkan di masjid-masjid. Makanya, nyaris tidak didapatkan lantunan doa untuk para mujahidin di masjid yang mulia yaitu masjidil haram dan masjid nabawi.

Berbeda dengan Indonesia. Banyak orang mengatakan bahwa Indonesia adalah surganya para da’i. bersuara apa saja dan berdoa apa saja tidak ada yang melarang. Bahkan doa yang diperuntukkan untuk para mujahidin oleh para imam saat shalat tarawih pun tidak ada yang melarang. Mungkin musuh-musuh Islam beranggapan toh masyarakat Indonesia juga tidak paham bahasa Arab. Kalaupun ada, itu pun hanya sedikit. Sehingga doa yang dipanjatkan meski sangat mengharukan dan menggetarkan, itu pun tidak menyentuh para jama’ah karena memang mereka tidak paham isinya.

Sebagai seorang pejuang, kesempatan untuk banyak mendoakan para pejuang di bulan Ramadhan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mumpung kita masih bisa – dan semoga terus bisa – untuk mendoakan para mujahidin. Karena bisa jadi keadaan berbalik sehingga para thaghut melarang kita untuk mendoakan mujahidin.

Biarkan lisan kita terus berdoa untuk para mujahidin meski para jama’ah tidak paham dengan doa-doa pada qunut kita dan ceramah-ceramah kita. Tetapi kita yakin bahwa Allah dan para malaikat-Nya pasti mendengarnya. Allah lah yang akan membukakan hati hati para jama’ah sehingga mereka mendukung jihad fi sabilillah. Kita harus yakin bahwa tidak ada doa yang sia-sia dan pasti Allah mengabulkan-Nya. [dikutip dari majalah annajah edisi 104 rubrik tafsir/an najah.net].

By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s