Membunuh Terduga Teroris, Densus 88 Dianggap Mujtahid? (1/2)


Membunuh Terduga Teroris, Densus 88 Dianggap Mujtahid? (1/2)Pak Densus tu kan melaksanakan tugas saja. Mereka sudah berusaha untuk mencari para teroris-teroris yang memang mereka itu tersangka berbuat keonaran sebagai pelaku-pelaku terorisme. Kalau mereka (Densus) sudah berusaha ternyata salah (tembak) orang, mudah-mudahan Allah memaafkan mereka.

Karena dalam Islam saja pak, seseorang sudah berusaha ijtihad dan berusaha untuk mengetahui suatu permasalahan kemudian salah, maka diberikan pahala satu. Kalau misalnya orang-orang Densus tu sudah diperintahkan oleh oleh pemerintah, “Kamu cari ara teroris itu,” kemudian mereka sudah melaksanakan tugas, ternyata salah orang qodarrallah, gimana?

Sementara sudah berusaha semoga Allah memaafkan, yang terpenting mereka sudah berusaha sekuat tenaga. 

Badrussalam02

Itu adalah jawaban Ust. Abu Yahya Badru Salam, Lc dalam sebuah pengajian di Polda Lampung. Ketika itu ada yang menanyakan pandangannya jika ada “teroris” yang mati ditembak Densus 88. Hingga tulisan ini dibuat, tayangan tersebut masih bisa dilihat di kanal Rodja TV di youtube.

Bagi Ust. Badrussalam, tindakan Densus 88 yang membunuh terduga teroris adalah sah. Tak hanya di situ, dia juga menguzur (memaafkan) tindakan tersebut dengan dalih Densus 88 sedang berijtihad. Lengkap dengan menukil sebuah hadits yang menyatakan jika hakim yang berijtihan salah, maka ia mendapatkan satu pahala.

Sesederhana itukah permasalahannya?

Pembunuhan yang dilakukan oleh Densus 88 terhadap seseorang yang diduga sebagai teroris adalah permasalahan darah. Islam sangat ketat dalam masalah ini, dan mengancam dengan keras terhadap setiap pelanggaran apapun di dalamnya. Dalam sebuah firman-Nya, Allah SWT mengancam pelaku pembunuhan seorang Muslim dengan kekekalan tinggal di neraka.

(وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَائُهُ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيْهَا (النساء : 93

Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasan baginya adalah neraka Jahannam yang ia kekal di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ 93)

Demikian pula Rasulullah sholallahu alaihi wasallam, dalam wasiat-wasiat terakhir saat Haji Wada’ mewasiatkan kepada para shahabat agar jangan saling membunuh. Beliau bersabda:

( لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ ( رواه مسلم

“Setelah sepeninggalku nanti, janganlah kalian betindak (seperti) amalan orang-orang kafir, yang sebagian kalian memukul tengkuk (membunuh) sebagian yang lain. (HR. Muslim)

Saking besarnya perkara darah seorang Muslim, perkara ini menjadi hal yang pertama kali diadili di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits disebutkan :

(أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فيِ الدِّمَاءِ (متفق عليه)

“Hal yang pertama kali diadili pada hari kiamata adalah urusan darah.” (HR. Bukhari Muslim)

Saking berharganya darah seorang Muslim, maka keruntuhan dunia dan seisinya sekalipun tidak ada apaapanya di sisi Allah, jika dibandingkan terbunuhnya seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan. Rasulullahsholallahu alaihi wasallam bersabda :

(لَزُوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ (رواه  ابن ماجه

“Runtuhnya dunia dan seisinya lebih ringin di sisi Allah dibanding dengan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak (alasan yang dibenarkan).” (HR Ibnu Majah)

Hadits dari Ibnu Mas’ud , bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallambersabda :

(لاَ يَحِلُّ دَمُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَ أَنِّي رَسُوْلَ اللّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : اَلثَّيِّبُ الزَّانِي , اَلنَّفْسُ بِالنَّفْسِ , وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ (متفق عليه

“Tidaklah halal darah seorang Muslim yang bersyahadat tiada ilah selain Allah dan saya adalah utusan Allah, kecuali tiga hal: orang yang telah menikah berzina, jiwa dibalas jiwa (qisas) dan orang yang meninggalkan agamanya. (HR. Bukhori Muslim)

Selama seseorang masih Muslim, dan tidak terbukti melakukan pembatal keislaman atau melakukan pelanggaran yang membuat darahnya halal, maka selama itu pula Islam menjaga darah, harta dan kehormatannya. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

(مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَ أَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فَذلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللّهِ وَ ذِمَّةُ رَسُوْلِهِ (رواه البخاري

“Barangsiapa yang sholat seperti sholat kita, menghadap ke kiblat kita, dan memakan sembelihan kita maka dia adalah muslim yang mendapatkan penjagaan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhori).

Ayat dan hadits-hadits di atas menjadi dasar atas larangan seseorang membunuh Muslim, kecuali dengan alasan-alasan yang dibenarkan. Maka patut disayangkan jawaban ustadz di atas yang terkesan memberikan kewenangan kepada Densus 88 untuk membunuh siapa saja terduga teroris. Bisa jadi, ini membuat sang ustadz ikut andil dalam tumpahnya darah yang diharamkan.

Sekalipun itu terduga teroris. Sebab, secara hukum statusnya masih terduga, belum terbukti. Padahal dalam islam untuk masalah hudud (penerapan hukum pidana) harus terbebas dari yang namanya syubhat. Ada kaidah yang berbunyi “Tudro’ul hudud bisy syubuhat” Artinya, hudud (hukum pidana Islam) tertolak dengan adanya syubhat. Syubhat adalah ketidakjelasan atau belum terbuktinya seseorang melakukan tindakan pidana, atau hal-hal lain yang menyebabkan hukum pidana belum bisa ditegakkan.

 

Densus 88 = Mujtahid?

Poin berikutnya, sang ustadz seolah-olah dalam jawabannya, menganggap Densus 88 adalah sekelompk mujtahidin yang apabila salah pun tetap mendapat satu pahala. Padahal, dalam syariat Islam seorang yang membunuh tanpa sengaja (qotlul khoto’), walaupun dia tidak berdosa akan tetapi syariat membebankan untuk membayar kafarat.

Ini jika yang terjadi adalah qotlul khoto’. Secara faktual, apa yang dilakukan densus bukanlah qotlul khoto’. Bisa berupa qotlu syibhil amdi (pembunuhan yang mirip sengaja) bahkan bisa jatuh kepada qotlul amdi (pembunuhan yang disengaja) yang hukumannya adalah qishos (dibalas bunuh).

Penyamaan sang ustadz antara Densus 88 dan mujtahid jelas tidak nyambung. Mengapa?

Ijtihad adalah sebuah perkara yang tidak sembarang kepala bisa atau boleh melakukan. Muhammad Abu Zahroh dalam Ushul Fikihnya menyebutkan syarat-syarat bagi seseorang untuk bisa atau boleh berijtihad, di antaranya:

  1. Mengetahui bahasa Arab. Para ulama’ usul sepakat bahwa penting bagi seorang mujtahid mengetahui bahasa arab, karena Al-Qur’an yang dengannya syariat ini turun berbahasa Arab, dan As-Sunnah yang merupakan penjelas Al-Qur’an juga berbahasa Arab. Bagaimana dengan Densus 88?
  2. Mengetahui nasikh dan mansukh. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, selama rentang waktu ada ayat ayat yang sudah di-mansukh (tidak berlaku lagi hukumnya). Maka jika seorang mujtahid tidak mengetahui ayat ayat yang mansukh ditakutkan dia menggunakan ayat yang mansukh padahal hukum ayat itu sudah tidak berlaku lagi. Sejauh mana Densus 88 paham nasih-mansukh?
  3. Mengetahui Ijma’ dan Khilaf. Seorang mujtahid harus menguasai ini, karena jika sudah terjadi ijma’ dalam suatu masalah maka seorang mujtahid tidak boleh lagi melakukan ijtihad. Selain itu, ijtihad hanya boleh dilakukan pada kaaus kasus yang tidak terjadi ijma’ di dalamnya. Densus 88?
  4. Mengetahui qiyas. Qiyas merupakan elemen penting dalam ijtihad. Karena dengan qiyas seorang mujtahid bisa mencari persamaan illah antara kasus yg ada di hadapannya dan perkara perkara yang sudah ada dalilnya. Qiyas memiliki rukun, syarat dan cara cara yg mana kesemua hal ini harus dikuasai oleh seorang mujtahid. Bagaimana dengan Densus 88?

Berlanjut ke tulisan kedua.

Penulis: Miftahul Ihsan, Lc.
Editor: Hamdan

(KIBLAT NET)

By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s