Bersabar, Jadikan Jodoh Kita Sebagai Cinta Pertama dan Terakhir


Bersabar, Jadikan Jodoh Kita Sebagai Cinta Pertama dan TerakhirALANGKAH berwarnanya hidup ini, ketika seseorang menemukan separuh jiwanya, belahan hatinya, sosok yang sangat lama ia tunggu dalam penantian yang panjang, dan pada akhirnya keduanya menyatu dalam sebuah ikatan akad pernikahan.

Barangkali itu yang diimpikan oleh setiap kita sebelum kita memasuki dunia rumah tangga, menemukan sang pujaan hati, mengikatnya dengan ikatan suci, dan membawanya berlabuh dalam bahtera rumah tangga yang penuh sensasi, kemudian mendidik para generasi Rabbani, yang menjadi tonggak komando untuk kemajuan agama, bangsa dan negeri.

Namun semua itu akan terasa indah bila kita bersabar hingga datang waktu dimana penantian ini berujung, menjadikannya cinta pertama dan terakhir dalam hidup, serta menjadikannya orang pertama yang kita hapus air matanya ketika ia sedih, dan kita kokohkan jiwanya ketika ia rapuh.

Tidakkah mengikat cinta dengan akad pernikahan itu  jauh lebih tenteram dibandingkan membuang waktu memasuki dunia pacaran yang barangkali ia adalah pasangan orang lain yang kebetulan mampir dalam kehidupan cinta ini, kemudian ia pergi meninggalkan bekas luka.

Mari sejenak kita membuka hati ini, tundukkan keegoisan dalam diri, biarkan nurani ini  mencoba melihat fenomena yang terjadi, dimana seorang Suami tidak berfikir panjang dengan menceraikan sang istri dan mengembalikannya ke pangkuan ayahanda dan Ibundanya setelah dulu ia berjanji akan menjaganya sepenuh hati. Dengan banyaknya kasus perceraian yang terpapar dalam kehidupan ini, tidakkah membuat kita sadar bahwa dulu mereka adalah dua insan yang saling mencintai, sama dengan apa yang kita rasakan saat ini, dan keduanya memutuskan untuk membina rumah tangga seindah syurga, namun yang terjadi adalah fakta pahit dimana cinta berujung pada perceraian.

Sebuah pernikahan akan menemukan kebahagiaan, keindahan, serta ketenangan yang didambakan oleh setiap orang, ketika pernikahan itu sendiri di persiapkan dengan agama, dibangun berasaskan agama kemudian dijalankan dalam aturan dan titah agama.

Pilihlah seseorang yang kamu cintai bukan cuma karena ketampanan ataupun kecantikan, karena ketampanan dan kecantikan akan sirna seiring dengan bertambahnya usia. Dan kadar cinta akan menurun seiring dengan berjalannya waktu.

Akan tetapi yang lebih penting dari sekedar ketampanan dan kecantikan adalah dimana ia terampil mengaplikasikan ajaran  agama ini dalam hidup, memiliki jiwa tanggung jawab yang tinggi, sederhana dalam kehidupan, lembut dalam tutur kata, sopan dalam tingkah laku, dan bersahaja dalam keseharian serta taaat dan patuh kepada kedua orangtuanya, mereka lebih indah dari intan permata, lebih mahal dari mutiara, dan lebih berharga dari tahta dan mahkota.

Bila pernikahan hanya bermodalkan cinta belaka maka ia akan runtuh seiring dengan bergantinya detik, karena cinta kepada manusia akan pudar seiring dengan berputarnya zaman.

Seperti halnya cinta romantis yang kita rasakan detik ini hanya bertahan setelah beberapa bulan memasuki dunia pernikahan, dan setelah itu cinta akan terkikis sedikit demi sedikit oleh perputaran waktu.

Hanya Agama yang dapat mengawetkannya menjadi satu cinta yang utuh dan kebal dalam segala situasi dan kondisi, dan hanya agama sebagai smart solution untuk memperekat cinta dalam rumah tangga.

Pelajarilah agama ini lebih mendalam sebelum memasuki dunia rumah tangga, hingga kita terbekali dengan agama yang cukup, dan pemahaman problematika rumah tangga yang luas, karena rumah tangga yang kita lihat begitu menawan, pada hakikatnya menuai konflik yang begitu komplit setelah kita memasukinya.

Saat itulah di butuhkan sang pilot yang ahli, sang sopir yang terampil serta sang nahkoda yang handal dalam mengendalikan kemudi, sehingga segala masalah menemukan solusi, karena pernikahan adalah menyatukan dua insan dari dua keluarga bahkan adat istiadat yang berbeda.

Pernikahan bukan mencari persamaan tapi saling menyamakan, pernikahan bukan mencari kesempurnaan tapi saling menyempurnakan.

Dan dua cinta tidak akan merekat kuat kecuali ditempel dengan lem perekat, dan lem perekat terbaik untuk menyatukan dua cinta hanyalah agama Islam. Dan agama Islam ini akan mengajarkan sang suami bagaimana menjadi pemimpin sehingga ia menjadi lebih dewasa dalam menyikapi apapun yang terjadi, dan agama ini akan mengajarkan seorang istri untuk menjadi lebih mengerti, dan pada akhirnya setiap kita akan mengatakan seperti perkataannya baginda rasul”baitii jannatii” (rumahku laksana syurga bagiku).

Maka, jika ingin mendapat jodoh terbaik, syarat utamanya adalah perbaikilah hiduplah sesuai ajaran Islam (Al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh dan jadilah wanita yang sholehah.

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” (HR. Ahmad, Nasaiy, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS: An Nuur: 26)

Tidak ada hal yang kita cari kecuali ketenangan dan kebahagian dalam hidup ini, namun terkadang kita terjebak dalam kebahagian yang semu. Tidak ada ketenangan dan kebahagian akan abadi kecuali dijembatani dengan agama ini. So, pilihan hidup Anda ada di tangan Anda.*/Muhammad Arrisyadi Mursal, sedang belajar di  Republik Yemen (HIDAYATULLAH)

Iklan
By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s