Kisah Menyentuh! Akhlak Luhur Allamah Syaikh Bin Baz terhadap Seorang Pencuri


Kisah Menyentuh! Akhlak Luhur Allamah Syaikh Bin Baz terhadap Seorang PencuriPenulis: Abu Asybal Usamah

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita kesempatan hidup di bulan Ramadhan dan memberikan kita kekuataan untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam senantiasa membasahi lidah kita teruntuk rasulullah dan ahlul baitnya.

Kita pernah atau bahkan sering mendengar tentang ulama yang satu ini. Baik dari lisan para pendukungnya maupun dari para penentangnya. Kalau dari para pendukungnya kita mungkin akan mendengarkan tentang fatwa-fatwa beliau. Namun dari penentang beliau, atau dari kalangan yang tidak suka dengan beliau, tidak sedikit tuduhan dan celaan yang dialamatkan kepada beliau. Sosok itu adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz rahimahullah.

Ada sebuah kisah yang menarik tentang beliau. Kisah ini senantiasa terdengar dan mengiasi majlis-majlis ilmu para murid-murid beliau yang sangat mencintai beliau. Kisah yang mungkin tidak sampai ke telinga oang-orang yang tidak menyukai beliau. Kisah tersebut adalah kisah tentang pencuri yang masuk ke rumah beliau.

Kisah ini diceritakan oleh salah satu murid beliau. Ada seorang Pakistan yang bekerja di Thaif sebagai scurity untuk meningkatkan taraf hidupnya dan keluarganya di Pakistan. Suatu hari ia  mendapat surat dari Pakistan kalau orang ibunya sakit parah dan akan menjalani operasi.

Operasi tersebut membutuhkan biaya 7000 riyal, sementara pemuda Pakistan itu hanya memiliki uang 1000 riyal. Ya Allah, hatinya terasa sesak. Apa yang bisa diberikan untuk menyelamatkan ibunya. Ia sudah berusaha untuk mendapatkan pinjaman namun hasilnya nihil.

Sempit rasanya dalam kondisi terjepit. Sepanjang hari ia bersedih. Gelap mata, akhirnya ia memutuskan untuk mencuri.

Ia pun melancarkan aksinya pada malam hari jam dua. Namun, alangkah apesnya, ia malah ketangkep polisi. Dunia terasa gelap saat itu. Namun, sebelum subuh tiba, polisi mengembalikannya ke rumah yang ia berniat mencuri tabung gas di rumah itu.

Setelah polisi pulang, seorang pemuda menghidangkan makanan untuknya seraya  berkata “Makanlah, bismillah”. Orang pakistan itu pun tidak percaya apa yang terjadi.

Subuh pun tiba. Para pemuda itu menyuruh pencuri untuk berwudhu dan shalat subuh di masjid. Ia pergi bersama Syaikh menuju ke masjid. Ketika beranjak ke masjid, Syaikh memastikan dan bertanya “Apakah engkau sudah makan tadi?” si orang Pakistan itu menjawab “Ya”.

Setelah shalat subuh, alangkah kagetnya ia, yang duduk di kursi di hadapan jamaah adalah kakek tua yang tuna netra, dimana ia berniat mencuri di rumahnya.

Ia mencoba mencari tau dengan bertanya kepada orang yang berada di sekitarnya. “Siapa dia” maka dijawablah “Beliau adalah Syaikh Bin Baz”.

Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ia mengetahu sebelumnya tentang nama ulama yang sangat terkenal itu di Saudi, namun belum pernah tau. “Ya Allah, apa yang telah aku lakukan?” gumamnya dalam hati.

Setelah selesai memberikan ta’lim, Syaikh mengajaknya kembali ke rumah beliau. Si Pakistan itu disuruh duduk di samping Syaikh dan menyantap hidangansarapan pagi bersama murid-murid beliau.

Syaikh pun membuka pembicaraan dengannya. “Siapa namamu?” ia menjawab “Murtadha”. “Mengapa engkau mencuri?” tanya Syaikh. Ia pun menceritakan apa yang terjadi.

“Baiklah, aku akan memberikan 9000 riyal kepadamu” ujar beliau.

“Saya hanya memerlukan 7000 riyal saja” balas Murtadha.

“Iya, sisanya untukmua, asalkan engkau tidak mencuri lagi wahai anakku” pinta Syaikh Bin Baz rahimahullah.

Ia pun kembali ke Pakistan untuk membawa berobat ibunya dan merawat ibunya. Setelah lima bulan berlalu, ia pun kembali ke Saudi, menuju Riyadh. Ia mencari Syaikh Bin Baz. Dan setelah bertemu dengan beliau dan menanyakan kabar ibunya, Murtadha mengembalikan sisanya 1500 riyal.

“Apa ini?” tanya beliau.

“Ini sisanya” jawab Murtadha. “Tidak , itu untukmu” ujar Syaikh.

“Syaikh, aku punya permintaan”.

“Apa itu, anakku”

“Aku ingin bekerja dengan =nmu. Jadikan aku pembantumu atau apa saja yang bisa aku kerjakan. Saya mohon jangan tolak ya Syaikh, semoga Allah menjagamu”.

“Baiklah”.

Ia pun bekerja dengan Syaikh hingga beliau wafat. Ketika Syaikh Abdul Aziz bin Baz pun wafat, ia tak bisa menahan diri dan mengalami pingsan tiga kali.

Murid yang menceritakan kisah ini mengatakan, setiap mereka (para murid Syaikh Bin Baz) memasuki masjid atau di majlis membicarakan tentang Syaikh Bin Baz, orang Pakistan itu tidak mampu menahan air mata dan terisak bahkan pingsan karena mengingat keluhuran pribadi Syaikh Bin Baz dan rindu akan sosok beliau.

Begitulah sosok yang dikenal tegas dalam dakwah Tauhid. Lantang menyuarakan tauhid dan menegakkan Syari’at Islam, namun juga memiliki akhlak yang luhur lagi mulia. Ia tidak serta menjebloskan pencuri itu ke dalam penjara dan menjatuhkannya hukuman, namun beliau berhusnu’zhon terhadap sebab ia melakukan hal tersebut sehingga beliau berlaku santun dan rahim terhadap pencuri tersebut. Rahimakallah ya Imama zamanih.

VOA ISLAM

Iklan
By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s