Datangi Komnas HAM, TPF Komat Tolikara Bawa Bukti Pelanggaran GIdI


Datangi Komnas HAM, TPF Komat Tolikara Bawa Bukti Pelanggaran GIdIISTIQOMAH NEWS: Komite Umat untuk Tolikara (Komat) mendatangi Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) untuk melaporkan hasil investigasi peristiwa Idul Fitri Berdarah di Tolikara, Papua pada 17 Juli 2015.

“Intinya kami ingin membawa fakta tentang pelanggaran HAM berat oleh Gereja Injili di Indonesia (GIdI),” kata Ketua Komat Tolikara, Bachtiar Nasir di kantor Komnas HAM, Jl. Latuharhari, Jakarta Pusat, Kamis (06/08).

Terutama, lanjut Bachtiar, secara spesifik pelanggaran dilakukan oleh dua orang pendeta GIdI yang menandatangi surat pelarangan shalat Idul Fitri.

Sementara itu, Ketua TPF Komat, Fadlan Garamatan menegaskan Tolikara adalah bagian dari negara Indonesia, sehingga persolana di sana harus diselesaikan dalam bingkai hukum Indonesia.

Lebih dari itu, memurutnya masyarakat merasa menyesal atas pecahnya peristiwa itu. Alasannya karena, selama ini kehidupan beragama di Tolikara berjalan dengan rukun dan toleran. (Baca juga: Puluhan Tahun Hidup Rukun, Muslim Tolikara Heran Pembakaran Masjid Terjadi)

“Di sana Katolik biasa menjaga Muslim, begitu pula Muslim menjaga Katolik,” tutur dai yang sudah mengislamkan ribuan penduduk asli Papua ini.

Dai asal Papua ini berpendapat, pemicu peristiwa Tolikara adalah surat dari GIdI yang ditaruh di pos TNI Maleo bukan diserahkan secara administratif ke Kapolres. Surat tersebut berisi pesan permusuhan terhadap Muslim di Tolikara.

“Ini sangat melanggar,” cetusnya

Senada dengannya, Juru bicara Adnin Arman membenarkan bahwa GIdI membuat surat yang memicu konflik di Tolikara. Surat itu melarang umat Islam shalat Idul fitri, padahal, lanjut Adnin, negara meliburkan hari tersebut untuk umat Islam bisa merayakan Idul fitri, ironisnya di Tolikara justru dilarang. Bahkan, GIdI juga melarang muslimah berjilbab dalam surat itu.

“Ini yang sangat kami sesalkan atas GIdI,” katanya. (Baca juga: Investigasi Tolikara: Di Tolikara, Titik Api Bermula)

Sebelumnya, Fadhlan juga bahwa massa penyerang bukan berasal dari Tolikara.

“Masyarakat sana juga terkaget-kaget karena tidak pernah kenal dengan massa,” beber pimpinam AFKN itu.

Ditemui oleh komisioner Komnas HAM Manager Nasution, TPF Komat menyerahkan data investigasi berupa file berbentuk hardcopy dan rekaman berbentuk dua keping VCD.

“Data ini akan memperkaya dan melengkapi Komnas HAM terkait peristiwa Tolikara, dimana kami juga sudah membuat Tim Investigasi,” pungkas Manager.(KIBLAT NET)

By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s