Tokoh Poso: Negara Ini Hadir Berkat Perjuangan Santri, Bukan BNPT


Tokoh Poso: Negara Ini Hadir Berkat Perjuangan Santri, Bukan BNPTISTIQOMAH NEWS: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dinilai bekerja bukan melindungi bangsa tetapi menghancurkan bangsa karena menuduh tanpa standar dan indikator yang jelas. Hal itu ditegaskan oleh H. Adnan Arsal, tokoh Muslim Poso terkait tuduhan pesantren radikal beberapa waktu lalu.

Menurut Haji Adnan, BNPT harus punya tim peneliti sendiri dan tak hanya mengandalkan informasi dari intelejen kemudian menstigmatisasi seluruh pondok pensantren dengan pernyataan mengajarkan radikalisme.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag ditugaskan untuk meneliti Pondok Pesantren Amanah Poso terkait pernyataan BNPT tentang adanya 19 Pondok Pesantren yang mengajarkan radikalisme. (Baca juga: Dituduh Pesantren Radikal, Ini Penjelasan Peneliti Kemenag Usai Kunjungi Ponpes Amanah Poso )

“Adakah yang bisa dipegang oleh pondok pesantren sehingga kita tahu seperti apa ajaran kekerasan yang dimaksud BNPT? Tapi jangan menstigmatisasi bahwa pondok pesantren ini radikal, itu radikal,” kata Haji Adnan kepada Kiblat.net pada Senin, (08/02).

Haji Adnan menyarankan agar BNPT bekerjasama dengan ulama yang masih lurus pemahamannya, kemudian melihat penjelasan ayat-ayat Al-Quran terkait jihad dan amar ma’ruf nahi munkar yang kerap disalahpahami sebagai radikalisme.

“Nah kalau kita mengajarkan Al-Quran apakah itu salah? Mengajarkan hadits itu salah? Oleh sebab itu, berilah standar yang jelas dan penetapan pondok pesantren itu boleh jalan atau tidak, bukan dari BNPT. Itu domainnya ulama,” jelas Haji Adnan.

Ia juga mengusulkan agar BNPT bersedia menggalang kerjasama dengan ulama yang masih lurus pemahamannya dari ormas Islam apapun, kemudian mengadakan dialog tentang ajaran yang radikal menurut BNPT. Bukannya malah menstigmatisasi sejumlah pondok pesantren.

Secara khusus, Haji Adnan juga menyayangkan pernyataan mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai yang mengatakan dalam buku yang dibuatnya bahwa Santoso pernah mengajar di Pondok Pesantren Amanah. Kata dia, ini adalah kebohongan besar yang tidak ada dasarnya.

“Ansyaad Mbai katanya pernah menulis buku bahwa Santoso pernah mengajar di Amanah, saya bilang itu kebohongan besar. Santoso itu bukan guru, Santoso itu petani biasa yang di-DPO-kan, karena takut dibunuh maka lari dia ke hutan melakukan perlawanan,” ungkapnya.

Berdasarkan penelitian Kemenag di Ponpes Amanah Poso, tidak ada temuan seperti yang dituduhkan BNPT. Maka dari itu, para tokoh agama merasa jika BNPT masih menyebut Pondok Pesantren Amanah sebagai pondok yang mengajarkan radikal maka ini perbuatan tidak jantan yang bisa dituntut ke ranah hukum. (Baca juga: Klarifikasi Pesantren Radikal, Ini Pertanyaan Peneliti Kemenag pada Ponpes Amanah Poso)

“Kalau BNPT masih mengatakan kami mengajarkan radikalisme, ini bisa kita tuntut karena kita adalah lembaga legal dalam negara yang tercatat di Kementrian Hukum dan HAM juga terdaftar di Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama,” ujar Haji Adnan.

BNPT, lanjut Haji Adnan, disebut hanya membuat informasi menyesatkan kepada masyarakat. Hal itu bisa dituntut melalui jalur hukum.

“BNPT legal dalam negara, kami juga legal dalam negara. Jadi sama kita punya hak. Ini bukan negaranya BNPT. Ini negaranya bangsa Indonesia, dan negara ini hadir bukan perjuangannya BNPT. Negara ini hadir karena perjuangan ulama-ulama terdahulu yang mengobarkan jihad. Berapa jumlah santri yang gugur mempertahankan tanah air dengan jihad? Apakah jihad seperti ini yang mereka mau padamkan dalam negara ini?” Pungkas Haji Adnan.KIBLAT NET

Iklan
By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s