Pak Polisi, Celah Mana Lagi yang Akan Ditempuh untuk Birkilah-Kilah Lagi?


ahok-lecehkan-alquran-bohongISTIQOMAH NEWS: Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, kasus dugaan penistaan yang dilakukan Ahok berbeda dengan kasus penistaan agama pada umumnya.

Terlebih pelaporan kasus dugaan penistaan agama kepada Ahok ini tidak semutlak dengan kasus-kasus lain dengan bukti yang gamblang.

Dalam kasus Ahok, menurut Tito, penyidik harus melakukan kajian secara mendalam dengan meminta pendapat atau keterangan dari berbagai saksi ahli.

“Ini menyangkut, beda beda, kasus ini kan relatif. Relatif tidak semutlak yang ada di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah ada tersangka perobekan Alquran. Kapolda melapor, ini jelas pembuktiannya. Tanpa ahli kita tahu. Ada lagi di medsos yang menyatakan kitab suci adalah sampah, itu kan gampang buktikannya,” kata Tito, Sabtu (5/11/2016).

Kajian yang dimaksud Tito adalah kajian bahasa. Kajian ini diperlukan untuk mengungkap apakah unsur penistaan agama terpenuhi atau tidak.

“Bahasanya: ‘jangan percaya kepada orang, bapak ibu punya pilihan batin sendiri, tidak memilih saya. Dibohongi ‘pakai’. Ada kata pakai, itu penting sekali. Karena beda ‘dibohongin Al Maidah 51’ dengan ‘dibohongin pakai Al Maidah 51’,” ujarnya.

“Karena kalau dibohongin Al Maidah 51 kan yang bohong itu ayatnya, kalau ada ‘pakai’ berarti orangnya. Nah ini yang sedang kita minta keterangan kepada saksi ahli bahasa. Sebagai penyidik kami hanya menerima dan nantinya menyimpulkan dari ahli-ahli ini,” tutur Tito.

Terkait pernyataanya yang dianggap menistakan agama ini, dikatakan Tito, Ahok telah mengungkapkan permintaan maafnya. Dia mengaku tak bermaksud untuk melukai perasaan umat Islam.

Minggu, 06 November 2016 | 04:30 WIB | http://maribacaberita.com

***

Dibohongi (pakai) Al Maidah 51

Dibohongi Al Maidah 51:

Al Maidah 51 berisi kebohongan.

Artinya: Allah berbohong.

Dibohongi Pakai Al Maidah 51:

Orang yang menyampaikan Al Maidah 51 (Rasulullah, ulama, ustadz, dst) adalah pembohong. Dan hanya hal yang bersifat bohonglah yang bisa dipakai untuk berbohong. Maka “hal” tersebut yakni Al Maidah51 juga berisi kebohongan.

Artinya: Allah, Rasulullah, ulama, ustdz, dst, semuanya berbohong.

Kesimpulan:

Ada atau tidak ada kata “pakai”, kalimat tersebut tetaplah penghinaan. Bahkan adanya kata “pakai” membuat unsur penghinaannya jauh lebih besar.

Penghilangan kata “pakai” pada transkrip Buni Yani justru mengurangi unsur penghinaannya. Sungguh aneh jika Anda menggugat orang yang mengurangi unsur penghinaan. Lebih aneh lagi karena Anda menggugat orang yang menulis transkrip, padahal umat Islam marah karena isi pidato Ahok, bukan karena isi transkrip Buni Yani.

Firanda Andirja 

***

Dilihat dari pelaku dan materi yang dipakai untuk membohongi

Kalimat yang diucapkan Ahok itu bisa juga dilihat dari segi pelaku dan materi yang dipakai untuk membohongi.
Intinya:

  1. Orang berlaku bohong, ketika memakai surat Al-Maidah 51 untuk menjelaskan bahwa memilih orang nasani (sebagai teman kepercayaan, pemimpin dan semacamnya).
  2. Surat al maidah 51 ketika dipakai untuk masyarakat yang mengakibatkan merasa berdosa ketika memilih orang nasrani (kasusnya Ahok yang nasrani) berarti untuk membohongi dan membodohi masyarakat.

Dari sini tuduhan bohong berarti kepada dua:

Pertama, orang yang memakai surat al maidah 51 untuk melarang umat Islam memilih orang nasrani sebagai pemimpin.

Kedua, surat al maidah 51 itu sendiri dianggap jadi alat bohong ketika untuk melarang orang memilih orang nasrani sebagai pemimpin.

Surat Al Maidah 51 Menurut Tafsir Depag RI

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Al Ma”idah,51]

Tafsir

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Selain dari ayat ini masih banyak ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’aan yang menyatakan larangan seperti ini terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Diulangnya berkali-kali larangan ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’aan, menunjukkan bahwa persoalannya sangat penting dan bila dilanggar akan mendatangkan bahaya yang besar. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, juz 6, halaman 442-443, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an 1985/1986).

Dalam tafsir resmi Departemen Agama (kini Kementerian Agama) itu sudah jelas:

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Dengan demikian, tuduhan Ahok dalam pidatonya itu jelas menuduh kepada dua pihak yaitu orang, dan juga ayat. Oleh karena itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) menegaskan:

Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan:
(1) Menghina Al-Quran dan atau
(2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

Penistaan Ahok dilihat dari keyakinan Islam yang dia singgung

Mari kita bahas perkataan Ahok yang jadi persoalan, dilihat secara keyakinan Islam, karena menyangkut ayat Al-Qur’an yang merupakan keyakinan inti dalam Islam. Kalimat Ahok ini akan kami susul dengan kalimat yang senada untuk mengurai agar terkuak duduk soalnya secara keyakinan dalam Islam.

  1. “Dibohongin pakai surat al Maidah 51”. (dibohongi pakai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya dalam keyakinan Islam). Berikut ini untuk bahan perbandingan.
  2. Dibohongi pakai hadits mutawatir. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini sangat kuat benarnya dalam keyakinan Islam).
  3. Dibohongi pakai hadits shahih. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam).

Dari tiga kalimat itu akan tergambar seberapa kadar penistaan dari lafal dibohongi ketika disandingkan dengan lafal “pakai surat al Maidah 51” secara keyakinan dalam Islam. Sebab sudah menyinggung keyakinan Islam yang tingkatnya paling tinggi yaitu mengenai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya. Sehingga ketika Ahok mengatakan “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu sudah menyangkut ranah keyakinan tertinggi karena diyakini mutlak benarnya, namun dinista dengan ucapan dibohongin. Sedangkan ucapan dibohongin itu bila diturunkan kadarnya, yakni misalnya ucapan nomor 3: “Dibohongi pakai hadits shahih”, itupun tetap merupakan penyinggungan terhadap keyakinan dalam Islam. Karena sama dengan mengatakan: dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam.
Kesimpulannya, perkataan Ahok: “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu telah menyinggung keyakinan Islam yang terdalam karena menyangkut sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya.
Hartono Ahmad Jaiz

***

Saksi ahli apakah bisa menganulir saksi ahli yang lain

Dalam berita di atas dikutip perkataan Kapolri.

“Karena kalau dibohongin Al Maidah 51 kan yang bohong itu ayatnya, kalau ada ‘pakai’ berarti orangnya. Nah ini yang sedang kita minta keterangan kepada saksi ahli bahasa. Sebagai penyidik kami hanya menerima dan nantinya menyimpulkan dari ahli-ahli ini,” tutur Tito.

Persoalan ini perlu dijelaskan kepada masyarakat. Misal ada ahli bahasa yang memenggal-menggal sebagaimana perkataan Pak Kapolri itu hingga sampai berkesimpulan bahwa itu tidak ada masalah, hingga kasus Ahok tidak dipersoalkan lagi, misalnya, apakah saksi ahli bahasa itu akan bisa menganulir saksi-saksi ahli yang lain? Seandainya bisa begitu, lantas apa gunanya saksi-saksi ahli yang lain itu, baik dari ahli agama alias Ulama, maupun ahli hukum pidana dan sebagainya. Dan juga keterangan sikap resmi MUI dari kumpulan para ulama, apakah bisa dianulir begitu saja oleh saksi ahli bahasa, misalnya?

Di samping itu ada ahli hukum yang menginfokan bahwa dirinya mendengar adanya saksi-saksi ahli yang jumlahnya banyak. Diperkirakan, kalau jumlahnya lebih banyak yang menganggap bahwa Ahok tidak menista Islam dan tidak menista Ulama, maka tidak akan ditingkatkan prosesnya.

Kalau info dan cara itu sampai terjadi, maka dunia kehidupan, bukan hanya masalah penegakan hukum sama dengan dirusak begitu saja. Dari kapan dan landasannya apa, yang namanya berkaitan dengan norma benar dan salah itu ukurannya banyak-banyakan jumlah orang yang mendukung, walau diklaim sebagai orang ahli?

Dalam kehidupan, satu orang pun yang bicara, sedang semua orang menolaknya, kalau yang dikatakan satu orang itu kebenaran dengan ada bukti-bukti atau hujjah/ argumentasi dan semacamnya, maka jumlah banyak dari yang menolaknya tidak bermakna apa-apa.

Dalam kasus Ahok, ketika Majelis Ulama, kumpulan para ulama, yang beliau-beliau itu faham tentang agama (Islam) dan tidak buta juga tentang bahasa Indonesia (bicaranya manusia Indonesia termasuk Ahok), maka hanya orang tidak waras cara berfikirnya saja atau ada faktor lain lainnya yang negatif, seandainya keputusan sikap para ulama itu bisa dianulir, dinafikan, dikalahkan begitu saja oleh ahli bahasa misalnya (yang mungkin bahkan buta agama Islam). Padahal kasus Ahok ini fokusnya bukan penghinaan terhadap bahasa, tetapi terhadap agama. Apakah sebegitu pentingnya ahli bahasa dalam kasus ini, sedangkan perkataan Ahok itu bukan hanya bisa difahami oleh ahli bahasa? Apalagi persoalan Ahok ini sudah ditegaskan pula oleh ketua Umum PBNU bahwa telah menyinggung perasaan Umat Islam.

Celah mana lagi yang akan ditempuh untuk birkilah-kilah lagi?

(nahimunkar.com)

Iklan
By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s