Nasihat Syaikh Abdullah Azzam bagi Penggembos Jihad


Syaikh Abdullah Azzam menuturkan pengalamannya bahwa ada seseorang yang menuduh temannya yang akan berjihad dan para mujahid dengan tuduhan berpikiran sempit.

Saat itu orang yang dimaksud oleh syaikh didatangi salah seorang teman di rumahnya. Lalu temannya berpamitan mau pergi.

“Kamu mau pergi kemana?” tanya sang tuan rumah.

“Ke Peshawar,” jawab temannya.

Mendadak kesedihan tergurat di wajahnya dan mengucapkan kalimat, “Laa haula walaa quwwata illa billah, mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk kepadamu, kawan!”

Kita bayangkan, ia mengucapkan kalimat “Lâ haula wa lâ quwwata illa billâh” karena melihat seorang muslim berpikir tentang jihad, atau berpikir untuk mengunjungi orang-orang yang melangkah di atas jalan jihad.

“Berhati-hatilah dengan manusia berakal sempit yang berpikir untuk membela din,” katanya.

Sementara, dia merasa memiliki akal besar yang berpandangan luas, memiliki hati yang besar dan dada yang lapang. Dia adalah pemilik hikmah dan akal.

Ada pula orang-orang yang berani mencela para mujahid . Mereka  mengatakan orang yang berjihad dan syahid di belahan bumi Palestina, Suriah saat ini adalah mati jahiliyah. Naudzubillah min dzalik. Mereka beranggapan tidak ada jihad jika tanpa izin dari ulil amri. Ulil Amri mana yang mereka maksud?

Bahkan syaikh Abdullah Azzam pernah mengatakan dengan jelas dalam ceramahnya yang dirangkum dalam Tarbiyah Jihadiyah jilid ke-2 bahwa menurut Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat “Haram berperang tanpa izin imam kecuali dalam tiga keadaan:

  1. Jika imam menghapuskan jihad, seperti yang terjadi di negeri-negeri Arab dan negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Jihad merupakan hal yang terlarang. Pemimpin seperti itu tidak perlu ditaati, meskipun dia adalah Amirul Mu’minin. Dan jika bukan Amirul Mu’minin (pemimpin orang-orang beriman), maka mereka adalah penguasa thaghut. Apakah kita akan menganggap para pemimpin yang tidak menggunakan syariat Islam dalam kepemimpinanya sebagai ulil amri? Sebuah pertanyaan retoris yang tidak perlu jawaban terang.
  2. Imam mengesampingkan perizinan bagi maslahat yang dimaksudkan, yakni jihad yang telah menjadi fardhu ‘ain. Dalam kitab Al-Bahru Ar-Ra’iq yang bermazhab Hanafi disebutkan,
BACA JUGA  Bersiap-siaplah dan Jangan Remehkan Kaum Lemah

”Jika ada seorang wanita di bagian Timur bumi ditawan musuh, maka wajib bagi kaum Muslimin yang berada di bagian barat bumi membebaskannya.”

Satu orang wanita saja! Lalu bagaimana halnya jika sejumlah wanita ditawan dan diperkosa?

Syaikh Abdullah Azzam menegaskan, “Perang sekarang ini adalah fardhu ‘ain, khususnya di Palestina, Afghanistan dan di tempat mana pun yang dikotori orang-orang kafir. Sama saja apakah orang kafir itu dari negeri sendiri atau datang dari luar. Mereka harus dibersihkan dari negeri Islam. Dengan demikian, perang tetap menjadi fardhu ‘ain sampai negeri-negeri Islam dibebaskan dari cengkeraman orang-orang kafir. Sampai tak satu pun tentara kafir tetap tinggal di negeri yang dahulunya pernah menjadi wilayah Khilafah Islamiyah. Sejak jatuhnya Andalusia di tangan bangsa Salibi, maka jihad menjadi fardhu ‘ain atas setiap orang muslim.”

  1. Timbul dugaan kuat pada dirimu bahwa imam tidak akan mengizinkan.

Apakah kita akan mengharapkan keluarnya perintah jihad dari para pemimpin yang tidak menggunakan syariat Islam sebagai landasan bernegara? Apakah mungkin itu terjadi? Biarlah sejarah yang menjawab pertanyaan ini…

KIBLAT NET

Iklan
By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s