Kalimat Tauhid, Penuh Keutamaan Namun Kini Dihinakan


ISTIQOMAH NEWS: Sungguh miris hati ini ketika mendengar kasus penangkapan seorang muslim karena dituduh membawa bendera merah-putih bertuliskan kalimat tauhid. Yang lebih membuat hati ini miris adalah hal ini tidak terjadi di negara-negara Barat, yang mayoritas penduduknya non-muslim, namun justru terjadi di negara Indonesia yang penduduknya, pemimpinnya mayoritas muslim.

Menurut aparat penegak hukum tindakan ini termasuk bentuk penghinaan terhadap simbol-simbol negara. Logika sederhananya adalah ketika menuliskan kalimat tauhid di bendera itu dinilai sebagai bentuk penghinaan itu berarti menganggap kalimat tersebut hina, dan ini bentuk penghinaan terhadap Islam. Wal ‘iyadzu billah

Tidak diragukan lagi, orang yang mempermasalahkan bendera bertuliskan kalimat tauhid ada pada dua kemungkinan, pertama jika ia sebagai non-muslim maka ia adalah kafir harbi (orang kafir yang memerangi Islam, red). Kedua, jika ia muslim maka ia adalah munafiq atau jahil (bodoh).

Semoga beberapa penjelasan ini dapat mengingatkan mereka yang masih jahil terhadap keutamaan dan keagungan kalimat tauhid.

 Manusia Mulia Karena Tauhid

Manusia mulia bukan karena jabatan, bukan karena harta, bukan karena wanita. Namun karena satu hal yaitu tauhid.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. Al Munafiqun: 8).

BACA JUGA  Pemberontakan PKI di Madiun 1948 (Bag.6-Tamat): Pembantaian Ulama dan Santri

Umar bin Khattab pun mengingatkan hal ini, beliau berkata:

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا اِبْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

“Kita adalah bangsa yang dimuliakan dengan Islam, maka ketika kita mencari kemuliaan dengan seliannya maka Allah akan hinakan kita.”

Seorang presiden, menteri, polisi, tentara tidak dimuliakan karena jabatannya, namun karena Islam. Kalaulah mereka mulia karena jabatan maka Allah tidak akan menghinakan Firaun dan bala tentaranya.

Seorang konglomerat tidak dimuliakan karena hartanya, namun karena Islam. Kalaulah ia mulia karena hartanya niscaya Allah tidak akan menghinakan Qarun dan hartanya.

Lihatlah betapa hinanya bangsa Arab di mata bangsa Romawi dan Persi sebelum datangnya Islam, mereka dipandang sebelah mata dan tidak diperhitungkan. Namun setelah datangnya Islam kemuliaan bangsa Arab menjatuhkan kemuliaan bangsa Romawi dan Persi.

Dari sini kita faham bahwa kalimat tauhid adalah perkara yang dapat memuliakan dan menghinakan seseorang. Mulia karena menerimanya hina karena meninggalkannya. Maka ketika seorang pemimpin ingin hidupnya mulia jangan sekali-kali ia menghinakan kalimat tauhid. Sebab, jika ia menghina kalimat tauhid sejatinya ia sedang mengundang sebuah kehinaan.

Maka sungguh sangat mengherankan orang-orang yang mengaku bertauhid (mengesakan Allah) namun justru menjadi orang paling pertama menghinakan kalimat tauhid, paling getol untuk menkriminalisasi kalimat tauhid, paling anti terhadap kalimat tauhid.

KIBLAT NET

Iklan
By Tyang Ndusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s